cuplikan autobiografi
Sekolah Pertama
Be..A..BA Ce..A..CA BAaaCA! Perlahan huruf per huruf, kata per kata, aku meniti pelajaran membaca sederhana yang dibimbing kakak-kakakku. 3 tahun semenjak dilahirkan, aku berjuang memahami isi dunia yang berbeda dan aneh menurutku, entah mengapa aku harus memenuhi tuntutan itu, tuntutan setelah harus makan, harus tidur, harus mandi, dan harus belajar berbicara dalam waktu-waktu yang ditentukan. Sekarang tuntutan berikutnya hadir. Aku harus bisa membaca. Alhasil aku mampu membaca dengan baik pada umur 3,5 tahun. Umur yang terlalu dini untuk dapat membaca bagi anak-anak seusiaku lainnya. Jujur aku bangga mengingat peristiwa itu. Ini yang menjadi langkah awalku bersemangat mempelajari hal-hal baru dalam hidupku.
Kemudian pada awal 4,5 tahun, aku ingin sekali masuk Sekolah Dasar. Aku iri melihat anak-anak yang berseragam merah putih yang berlari-lari berkejaran dengan teman sebayanya. Aku ingin seperti mereka, sampai kemudian rengekanku dipahami orangtuaku. Aku didaftarkan di Sekolah Dasar Percontohan Semper Timur dekat rumahku, sekolah yang patut dibanggakan karena menjadi panutan sekolah dasar lainnya di kawasan Semper Timur, Jakarta Utara. Semakin ingin aku menempuh bangku dasar disana, walaupun aku memang belum mengerti mengenai kebanggaan atas sekolah itu namun setidaknya aku bersikukuh ingin sekolah atas nama semangat belajar bersama kawan sebaya, karena menurutku itu akan sangat menyenangkan.
Namun terjadilah hal yang membuatku menyesal itu, saat waktu pendaftaran masuk SD, umurku memang masih dibawah rata-rata calon murid lainnya. Saat itu aku memang baru berusia 4 tahun 7 bulan, dan rata-rata umur calon murid lainnya berusia 5 sampai 6 tahun. Orangtuaku berkata hal itu diperbolehkan asalkan aku dapat lolos tes-tes awal pada saat pendaftaran, pada saat itu aku tak merasa khawatir karena tesnya hanya membaca walau dengan mengeja, sedangkan aku sudah bisa membaca tanpa mengeja pada usiaku saat itu.
Tetapi pada saat pendaftaran itulah yang membuatku tidak diizinkan masuk Sedolah Dasar. Pada waktu berhadapan dengan guru penguji aku memang lulus tesnya dengan baik, namun aku masih berlaku kekanak-kanakan sepeti anak TK. Aku merengek meminta untuk dipangku ibuku di depan guru penguji, serentak guru itu melihatku sambil berkata pada ibuku:
“Bu, anak ibu masih sangat kecil, lihat saja sekarang masih minta dipangku, sepertinya anak ibu masih harus TK lagi terlebih dahulu agar tidak terlalu kecil dibanding teman-temannya nanti”
Dan akhirnya aku terpaksa masuk TK B, aku gagal mendapat bangku SD yang kuidam-idamkan itu, dan aku harus menunggu sampai setahun lagi untuk masuk SD hanya karena minta dipangku oleh ibu. Semenjak itu aku besikeras untuk belajar agar tidak bersifat kekanak-kanakan apalagi sampai berlaku manja didepan orang lain, karena aku tak mau gagal lagi masuk SD karena sifatku yang manja itu.
Awalnya sekolah itu asing bagiku, Sekolah Dasar Negeri Percontohan Semper Timur 07 Pagi. Anak-anak baru berseragam baru, mereka menggenggam erat tangan ibu dan ayahnya. Mereka gugup akan suasana baru itu, bahkan ada yang menangis tak ingin orangtuanya pergi meninggalkan mereka. Begitupun aku, kugenggam baju ibuku, tanganku dingin membayangkan akan berdiri di depan kelas untuk memperkenalkan diri, begitu kata kakakku. Katanya aku harus berani memperkenalkan nama, tanggal lahir dan hobi-hobiku. Entah aku harus berkata apa tentang hobiku, yang jelas yang ku tau ada rasa bahagia saat aku menyoretkan crayon-crayonku diatas kertas, walau aku tak tau apakah coretanku itu dapat dimengerti orang lain atau tidak, namun aku menjadi bangga semenjak ku diberi ucapan selamat karna telah menjadi juara tiga dalam lomba mewarnai se DKI Jakarta ketika aku masih duduk di bangku TK. Saat itu aku melihat raut senyum dari orangtauku, ya senyum yang mengisyaratkan kebanggaan akan kemenangan itu.
Komentar
Posting Komentar