HRD yang berkualitas, idaman semua organisasi
HRD, Human Resource Development atau dalam bahasa Indonesia berarti Pengembangan Sumber Daya Manusia. Mungkin sebagian orang masih memandang sebelah mata dengan keberadaan HRD di organisasinya. Apakah kegunaanya? Pentingkah? Sepertinya hanya memberatkan anggaran saja.. Ah sepertinya pekerjaannya sepele.. Hmm, coba fikirkan baik-baik sekali lagi jika anda termasuk orang-orang yang berfikiran seperti itu.
Sumber Daya Manusia (SDM) adalah faktor sentral dalam suatu organisasi. Apapun bentuk serta tujuannya, organisasi dibuat berdasarkan berbagai visi untuk kepentingan manusia dan dalam pelaksanaan misinya dikelola dan diurus oleh manusia.
Foulkes (1975) memprediksi bahwa peran SDM dari waktu ke waktu akan semakin strategis dengan ucapan berikut:
“For many years it has been said that capital is the bottleneck for a developing industry. I don’t think this any longer holds true. I think it’s the work force and the company’s inability to recruit and maintain a good work force that does constitute the bottleneck for production. … I think this will hold true even more in the future.”
Sudah jelas bahwa, SDM dalam suatu organisasi memegang kendali utama dan asset yang sangat berharga bahkan melebihi kekayaan apapun yang dimilki oleh organisasi tersebut. Punya modal atau cadangan kas yang besar tapi tak ada yang mengelola, apakah organisasi itu akan berjalan? Punya fasilitas yang canggih dan teknologi yang terbaru namun tak ada yang mengendalikan, apakah organisasi akan berjalan efektif? Tentu saja tidak.
Memang benar bahwa manusia merupakan faktor strategis dalam semua kegiatan institusi/organisasi. Maka dari itu, pengelolaannya pun tak boleh ‘sembarangan’ atau ‘asal-asalan’. Asal mengikuti program kerja yang turun temurun, asal eksis, atau lebih parahnya asal ada yang dikerjakan. Pengelolaan SDM yang sembarangan hanya untuk organisasi yang sifatnya tidak serius, tidak penting, dan hanya main-main saja. Apakah anda mau berada diantara organisasi yang tidak serius, karena jika mau berarti anda pun termasuk orang yang tidak serius dalam menjalani hidup ini. (ups, berlebihan ya)
Ya tapi memang itulah yang harus difikirkan kembali. Sadarkah anda bahwa HRD memiliki peran strategis dalam suatu organisasi? Pengelolaanya harus dengan sepenuh hati dan kesabaran yang tinggi untuk dapat memahami karakter dan perilaku seluruh anggota organisasi. HRD ibarat suatu akar yang kokoh yang harus dapat menopang suatu batang yang tinggi, harus kuat menahannya walau angin pasang surut organisasi menerpa. Jiwa para HRD tak boleh kosong, harus penuh semangat dan ketulusan yang paling utama. Tak hanya IQ (Inteligent Quotient) dan EQ (Emotional Quotient) yang penting bagi HRD, mengelola manusia membutuhkan SQ (Spiritual Quotient) yang cukup. Bekal ilmu dan kecerdasan spiritual juga dibutuhkan oleh HRD sebagai landasan ketulusan menjaga hubungan baik sesama anggota organisasi.
Bahkan dalam Islam pun kita diperintahkan untuk membina hubungan baik kepada manusia, dan itupun sebaiknya berdasarkan keinginan yang tulus bukan karena hanya menjalankan formalitas atau mengikuti program kerja yang turun temurun.
“Seorang mukmin terhadap mukmin (lainnya) bagaikan satu bangunan, satu sama lain saling menguatkan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).
Permasalahan dalam suatu organisasi juga kerap kali terjadi, dan permasalahan yang ada harus dapat bermanfaat bagi pengalaman berorganisasi, tidak berlalu begitu saja apalagi sampai membekas di hati para anggota organisasi. Disinilah HRD juga memainkan perannya sebagai pengendali dan pusat pengembangan karakter dengan membicarakan permasalahan yang terjadi secara baik-baik dan hikmahnya harus sampai kepada pihak-pihak yang bermasalah. Jangan sampai organisasi berjalan diatas ketegangan sesama anggota atau pengurus organisasi tersebut karena akan berakibat buruk bagi kelangsungan pencapaian kesuksesan program kerja yang telah dibuat.
Maka sekali lagi penting bagi kita semua untuk tidak menyepelekan peran HRD dalam suatu organisasi. Karena organisasi yang baik, yang sukses, hanya akan berhasil jika diisi oleh manusia-manusia berkualitas dengan pengelolaan yang juga berkualitas. Dan HRD pun sebaiknya juga mengajak seluruh anggota organisasi untuk sama-sama mejaga stabilitas organisasi dalam segala aspek, dan menjadikannya sebagai pijakan yang kuat yang dapat menopang pelaksanaan program kerja hebat yang telah sama-sama dibuat.
-aisy-
Sumber Daya Manusia (SDM) adalah faktor sentral dalam suatu organisasi. Apapun bentuk serta tujuannya, organisasi dibuat berdasarkan berbagai visi untuk kepentingan manusia dan dalam pelaksanaan misinya dikelola dan diurus oleh manusia.
Foulkes (1975) memprediksi bahwa peran SDM dari waktu ke waktu akan semakin strategis dengan ucapan berikut:
“For many years it has been said that capital is the bottleneck for a developing industry. I don’t think this any longer holds true. I think it’s the work force and the company’s inability to recruit and maintain a good work force that does constitute the bottleneck for production. … I think this will hold true even more in the future.”
Sudah jelas bahwa, SDM dalam suatu organisasi memegang kendali utama dan asset yang sangat berharga bahkan melebihi kekayaan apapun yang dimilki oleh organisasi tersebut. Punya modal atau cadangan kas yang besar tapi tak ada yang mengelola, apakah organisasi itu akan berjalan? Punya fasilitas yang canggih dan teknologi yang terbaru namun tak ada yang mengendalikan, apakah organisasi akan berjalan efektif? Tentu saja tidak.
Memang benar bahwa manusia merupakan faktor strategis dalam semua kegiatan institusi/organisasi. Maka dari itu, pengelolaannya pun tak boleh ‘sembarangan’ atau ‘asal-asalan’. Asal mengikuti program kerja yang turun temurun, asal eksis, atau lebih parahnya asal ada yang dikerjakan. Pengelolaan SDM yang sembarangan hanya untuk organisasi yang sifatnya tidak serius, tidak penting, dan hanya main-main saja. Apakah anda mau berada diantara organisasi yang tidak serius, karena jika mau berarti anda pun termasuk orang yang tidak serius dalam menjalani hidup ini. (ups, berlebihan ya)
Ya tapi memang itulah yang harus difikirkan kembali. Sadarkah anda bahwa HRD memiliki peran strategis dalam suatu organisasi? Pengelolaanya harus dengan sepenuh hati dan kesabaran yang tinggi untuk dapat memahami karakter dan perilaku seluruh anggota organisasi. HRD ibarat suatu akar yang kokoh yang harus dapat menopang suatu batang yang tinggi, harus kuat menahannya walau angin pasang surut organisasi menerpa. Jiwa para HRD tak boleh kosong, harus penuh semangat dan ketulusan yang paling utama. Tak hanya IQ (Inteligent Quotient) dan EQ (Emotional Quotient) yang penting bagi HRD, mengelola manusia membutuhkan SQ (Spiritual Quotient) yang cukup. Bekal ilmu dan kecerdasan spiritual juga dibutuhkan oleh HRD sebagai landasan ketulusan menjaga hubungan baik sesama anggota organisasi.
Bahkan dalam Islam pun kita diperintahkan untuk membina hubungan baik kepada manusia, dan itupun sebaiknya berdasarkan keinginan yang tulus bukan karena hanya menjalankan formalitas atau mengikuti program kerja yang turun temurun.
“Seorang mukmin terhadap mukmin (lainnya) bagaikan satu bangunan, satu sama lain saling menguatkan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim).
Permasalahan dalam suatu organisasi juga kerap kali terjadi, dan permasalahan yang ada harus dapat bermanfaat bagi pengalaman berorganisasi, tidak berlalu begitu saja apalagi sampai membekas di hati para anggota organisasi. Disinilah HRD juga memainkan perannya sebagai pengendali dan pusat pengembangan karakter dengan membicarakan permasalahan yang terjadi secara baik-baik dan hikmahnya harus sampai kepada pihak-pihak yang bermasalah. Jangan sampai organisasi berjalan diatas ketegangan sesama anggota atau pengurus organisasi tersebut karena akan berakibat buruk bagi kelangsungan pencapaian kesuksesan program kerja yang telah dibuat.
Maka sekali lagi penting bagi kita semua untuk tidak menyepelekan peran HRD dalam suatu organisasi. Karena organisasi yang baik, yang sukses, hanya akan berhasil jika diisi oleh manusia-manusia berkualitas dengan pengelolaan yang juga berkualitas. Dan HRD pun sebaiknya juga mengajak seluruh anggota organisasi untuk sama-sama mejaga stabilitas organisasi dalam segala aspek, dan menjadikannya sebagai pijakan yang kuat yang dapat menopang pelaksanaan program kerja hebat yang telah sama-sama dibuat.
-aisy-
Komentar
Posting Komentar