Menjadi sebuah problema. Jika yang dicari hanya dunia.
Anak-anak berkeliaran di jalan, menepuk-nepukan tangannya kepada botol berisi beras, atau kayu yang bergemerincing tutup botol.
Mungkin mereka terlihat tiada beban.
Padahal jika kau tau, orang sok jagoan (sebut saja bang preman) di daerahnya atau bahkan mungkin orangtuanya akan membentak, memukul kepala, mencaci jika tak banyak didapat uang dari hasil pengamennya.
Aku miris.
Mereka dimarahi karna tak mampu mencari dunia.
Apakah ada yang marah jika mereka bolos mengaji atau sekolah?
Sekolah yang katanya hanya menghabiskan biaya, padahal ladang ilmu tiada tara, dan Sang pencipta memerintahkan manusia tuk mengeruk ilmu dalam-dalam hingga ke akarnya.
Duhai Jakarta, betapa tega.
Kau kemanakan dua setengah persen hak mereka?
Sedangkan deretan mobil pertanda identitas kemampuan setiap hari antri memadati jalan.
Atau bahkan 'disana' tempat kau pertaruhkan nasib rakyat yang katanya kau wakili, tanda terima kasih kau selipkan di balik tangan, membeli hukum, membeli jabatan, demi memperkaya diri sendiri.

Ah, sudahlah!
Siapakah aku berani mengritikmu yang berdasi.
Meski tak semua serakah, namun tidak akan ada api jika tak ada yang menyulutnya bukan?
Tidak akan ada berita korupsi setiap hari jika kenyataannya memang tidak ada.
Ya, memang menjadi sebuah problema, jika yang kau cari hanya dunia.
Yang haram menjadi halal, yang tabu menjadi lumrah.
Naudzubillah mindzalik..
Anak-anak berkeliaran di jalan, menepuk-nepukan tangannya kepada botol berisi beras, atau kayu yang bergemerincing tutup botol.
Mungkin mereka terlihat tiada beban.
Padahal jika kau tau, orang sok jagoan (sebut saja bang preman) di daerahnya atau bahkan mungkin orangtuanya akan membentak, memukul kepala, mencaci jika tak banyak didapat uang dari hasil pengamennya.
Aku miris.
Mereka dimarahi karna tak mampu mencari dunia.
Apakah ada yang marah jika mereka bolos mengaji atau sekolah?
Sekolah yang katanya hanya menghabiskan biaya, padahal ladang ilmu tiada tara, dan Sang pencipta memerintahkan manusia tuk mengeruk ilmu dalam-dalam hingga ke akarnya.
Duhai Jakarta, betapa tega.
Kau kemanakan dua setengah persen hak mereka?
Sedangkan deretan mobil pertanda identitas kemampuan setiap hari antri memadati jalan.
Atau bahkan 'disana' tempat kau pertaruhkan nasib rakyat yang katanya kau wakili, tanda terima kasih kau selipkan di balik tangan, membeli hukum, membeli jabatan, demi memperkaya diri sendiri.

Ah, sudahlah!
Siapakah aku berani mengritikmu yang berdasi.
Meski tak semua serakah, namun tidak akan ada api jika tak ada yang menyulutnya bukan?
Tidak akan ada berita korupsi setiap hari jika kenyataannya memang tidak ada.
Ya, memang menjadi sebuah problema, jika yang kau cari hanya dunia.
Yang haram menjadi halal, yang tabu menjadi lumrah.
Naudzubillah mindzalik..
Komentar
Posting Komentar