Sebenarnya saat hujan kemarin
Sebenarnya saat hujan kemarin
Berapa banyak yang membuatku tercengang
Tentang hidup yang penuh ujian
Tentang seberapa besar rasa syukur diuji
Dimulai dengan pahlawan kebersihan yang kulihat tadi malam. Saat aku –seperti biasa- terpesona akan hujan. Walaupun kuyup aku kebasahan. Aku hanya menikmati dengan wadah menghadap langit.
Sesaat aku tersadar. Sedari tadi ada seseorang yang berjalan mondar mandir didepanku. Dia sibuk sendiri diantara klakson mobil yang teriak ingin menerobos banjir dan kemacetan. Namun di tengah malam yang hujan itu, dengan jas hujan seadaanya, ia membersihkan jalanan. Ya Allah, bergetar aku miris dibuatnya. Ia tetap tertunduk seolah enggan melihat Jakarta yang tak memerdulikannya. Ya, ia membersihkan jalanan dari sampah yang dibuang sembarang tangan. Baru saja ingin kuabadikan, begitu kucari ia menghilang, hanya ada gerobak yang terparkir di pinggir jalan. Begitu bertemu, handphoneku mati, sesaat sebelumnya seakan mengejekku, “maaf, aku capek! byeee”. Huufff..tak jadilah kuabadikan pahlawan itu. Semoga kau tetap tulus dengan sapu di tanganmu, walaupun Jakarta akan membuat kotor lagi jalan yang kau bersihkan. Tetaplah tulus berjuang, niscaya balasan dariNya menanti.
Dan sebenarnya saat hujan kemarin.
Aku merenung. Betapa Allah Mahaadil.
Rezeki yang dibagikan tepat sasaran.
Disaat hujan dan kedinginan, maka sang penjual makanan hangat akan tersenyum kebanjiran pelanggan. Sang penjual minuman dingin hanya diam. Mungkin dipikirannya, nanti ia akan kembali laris saat Jakarta kambuh dengan teriknya. Ya, betapa adil bukan. Sang pembeli terselamatkan dari dingin dan kelaparan, lalu sang pedagang akan tersenyum mengingat berapa uang yang masuk ke kantungnya. Dan begitu seterusnya pada pedagang laiinya, semua akan terbagi rata, semua akan mendapatkan bilangan rezeki TerBaik sesuai kadar masing” menurutNya. Ya, betapa adil.
Lalu sebenarnya saat hujan kemarin
Aku tertegun melihat lalu lalang orang berebut pulang
Yang mobil sibuk dengan klakson
Yang motor sibuk dengan mogok
Dan yang berjalan kaki sepertiku sibuk dengan baju kebasahan sambil menenteng alas kaki menerobos banjir
Mirip film disaster di televisi
Ya, aku dan mereka memikirkan diri sendiri
Bagaimana bisa pulang
Bagaimana bisa selamat sampai pulang
Bagaimana bisa selamat dan cepat pulang
Inikah gambaran hari akhir nanti. Masing-masing akan sibuk dengan diri sendiri, tak ada harta yang dibawa. Jabatan setinggi apapun semua sama. Pengusaha di dalam mobil, karyawan dengan motornya, pedagang kaki lima, sampai tukang sapu jalan. Semua kecil dihadapan penciptanya. Hanya iman dan takwa pembedanya. Tak ada yang sempat sibuk memikirkan dunia. Yang ada bagaimana amal dan ibadah dipertanyakan nanti, apakah cukup? Apakah semua kan tertutup oleh dosa yang membumbung? Oh..betapa aku takut padaMu. Jika kau ingin, kau bisa meluluh lantahkan Jakarta ini dengan sekejap. Mungkinkah Kau ingin memberi peringatan dengan banjir kemarin? Teguran untuk Jakarta yang menjulang angkuh. Betapa sombong diri kami seolah tak butuh engkau. Padahal harta, ilmu, jabatan yang didapat semua atas izin Engkau.
Ya Rabbi..ampuni kami yang jarang mengingat kematian..
yang enggan mengingat hari akhir..
Astaghfirullah..astaghfirullah..astaghfirullah
Rabbanaa dzalamnaa anfusanaa wa illam taghfirlanaa war hamnaa lakuunanna minal khaasiriin..
Berapa banyak yang membuatku tercengang
Tentang hidup yang penuh ujian
Tentang seberapa besar rasa syukur diuji
Dimulai dengan pahlawan kebersihan yang kulihat tadi malam. Saat aku –seperti biasa- terpesona akan hujan. Walaupun kuyup aku kebasahan. Aku hanya menikmati dengan wadah menghadap langit.
Sesaat aku tersadar. Sedari tadi ada seseorang yang berjalan mondar mandir didepanku. Dia sibuk sendiri diantara klakson mobil yang teriak ingin menerobos banjir dan kemacetan. Namun di tengah malam yang hujan itu, dengan jas hujan seadaanya, ia membersihkan jalanan. Ya Allah, bergetar aku miris dibuatnya. Ia tetap tertunduk seolah enggan melihat Jakarta yang tak memerdulikannya. Ya, ia membersihkan jalanan dari sampah yang dibuang sembarang tangan. Baru saja ingin kuabadikan, begitu kucari ia menghilang, hanya ada gerobak yang terparkir di pinggir jalan. Begitu bertemu, handphoneku mati, sesaat sebelumnya seakan mengejekku, “maaf, aku capek! byeee”. Huufff..tak jadilah kuabadikan pahlawan itu. Semoga kau tetap tulus dengan sapu di tanganmu, walaupun Jakarta akan membuat kotor lagi jalan yang kau bersihkan. Tetaplah tulus berjuang, niscaya balasan dariNya menanti.
Dan sebenarnya saat hujan kemarin.
Aku merenung. Betapa Allah Mahaadil.
Rezeki yang dibagikan tepat sasaran.
Disaat hujan dan kedinginan, maka sang penjual makanan hangat akan tersenyum kebanjiran pelanggan. Sang penjual minuman dingin hanya diam. Mungkin dipikirannya, nanti ia akan kembali laris saat Jakarta kambuh dengan teriknya. Ya, betapa adil bukan. Sang pembeli terselamatkan dari dingin dan kelaparan, lalu sang pedagang akan tersenyum mengingat berapa uang yang masuk ke kantungnya. Dan begitu seterusnya pada pedagang laiinya, semua akan terbagi rata, semua akan mendapatkan bilangan rezeki TerBaik sesuai kadar masing” menurutNya. Ya, betapa adil.
Lalu sebenarnya saat hujan kemarin
Aku tertegun melihat lalu lalang orang berebut pulang
Yang mobil sibuk dengan klakson
Yang motor sibuk dengan mogok
Dan yang berjalan kaki sepertiku sibuk dengan baju kebasahan sambil menenteng alas kaki menerobos banjir
Mirip film disaster di televisi
Ya, aku dan mereka memikirkan diri sendiri
Bagaimana bisa pulang
Bagaimana bisa selamat sampai pulang
Bagaimana bisa selamat dan cepat pulang
Inikah gambaran hari akhir nanti. Masing-masing akan sibuk dengan diri sendiri, tak ada harta yang dibawa. Jabatan setinggi apapun semua sama. Pengusaha di dalam mobil, karyawan dengan motornya, pedagang kaki lima, sampai tukang sapu jalan. Semua kecil dihadapan penciptanya. Hanya iman dan takwa pembedanya. Tak ada yang sempat sibuk memikirkan dunia. Yang ada bagaimana amal dan ibadah dipertanyakan nanti, apakah cukup? Apakah semua kan tertutup oleh dosa yang membumbung? Oh..betapa aku takut padaMu. Jika kau ingin, kau bisa meluluh lantahkan Jakarta ini dengan sekejap. Mungkinkah Kau ingin memberi peringatan dengan banjir kemarin? Teguran untuk Jakarta yang menjulang angkuh. Betapa sombong diri kami seolah tak butuh engkau. Padahal harta, ilmu, jabatan yang didapat semua atas izin Engkau.
Ya Rabbi..ampuni kami yang jarang mengingat kematian..
yang enggan mengingat hari akhir..
Astaghfirullah..astaghfirullah..astaghfirullah
Rabbanaa dzalamnaa anfusanaa wa illam taghfirlanaa war hamnaa lakuunanna minal khaasiriin..
Komentar
Posting Komentar