renungan perjalanan (edisi november)
November 2010
Pagi yang cukup terik, aku sudah bersiap menuju daerah menteng. Disanalah dulu aku melaksanakan praktik kerja selama dua bulan. Kini aku harus kesana lagi tuk mengambil data yang diperlukan tuk sidang nanti. Menunggu bis 948 jurusan Priuk- Kampung melayu menjadi hal yang mengesalkan untukku pagi itu, setengah jam lebih aku berdiri di terminal Tanjung Priok dan kepalaku sudah mulai terasa pusing karena belum sempat sarapan saat beranjak dari rumah tadi. Akhirnya kuputuskan mencari tempat yang bisa kududuki agar ku tak tumbang di terminal itu. Menit-menit kian berlalu akhirnya bis yang kunanti datang juga.
Sempat kupelototi supir dan kenek bis itu karna datang terlalu lama, lalu sesaat bepikir, kenapa aku marah, toh bukan salah mereka, tapi emosiku menjawab, abiiisss lama banget datengnya, capek tau nunggunya!! Lhaaa bicara sendiri, mulai deh aut…uppsss
Aku pun bergegas naik saja dan memilih tempat duduk yang paling nyaman. Bis melaju cukup cepat karena kondisi jalan yang lumayan lancar, kondisi aman dan terkendali *kok laporan lalu lintas??
Bis sampai di matraman, aku bergegas turun. Menyebrangi jalan tuk menanti bis 213 yang melewati taman suropati. Di depan rumah makan padang aku berdiri. Agak lama aku tersadar bahwa disampingku ada seorang ibu-ibu yang sedari tadi mengoceh pelan tak jelas, terakhir yang kudengar ia berkata “lama banget sih bisnya!” kemudian ia menatapku. Aku tersenyum saja mengingat hal itu jua yang kugumamkan dalam hati. Terjadilah keluhan berikutnya tentang cuaca yang panas, lampu merah yang terlalu lama, polusi dan lain sebagainya.
Kemudian sang ibu bertanya padaku: “Neng nunggu apa?”
“nunggu bis yang lewat taman suropati bu, bisa 213 bisa 67, tapi 67 agak lama jadi kalo 213 lewat duluan ya saya naik bu, kalo ibu?”
“iya saya juga nunggu 213, neng-nya sendirian aja? Mau kemana?”
“ke Bappenas bu” jawabku
“ooohh” katanya sambil membetulkan jilbab
Kemudian ia bertanya, “Neng, jilbab ibu berantakan ya? Tadi buru-buru dari rumah”
Aku memperhatikan jilbabnya sambil berpikir, nih ibu-ibu gampang akrab juga ya sama orang baru dikenal, “emmm..ga kok bu..udah rapih”
"ooh hehe abis saya ngeliat eneng..rapi banget pake jilbabnya"ujarnya
aku tertawa sambil mencari sesuatu yang bisa memantulkan bayanganku alias ngaca! apa iya serapih yang ibu itu bilang, perasaan biasa saja..
kemudian ia berkata lagi "ini nih..kayak gini yang bener neng, yang kayak eneng, rapi, tertutup, ga dandan..duh ibu seneng ngeliat anak muda kayak eneng.."
"ahaha ibu bisa aja.." padahal dalam hati ku ber-istighfar
Jadi ingat..Saiyidina Ali bin Abu Talib r.a apabila dipuji orang, selalu berdoa begini; "Ya Allah, ya tuhanku! Ampunilah aku terhadap segala yang mereka katakan itu dan jadikanlah aku lebih baik daripada apa yang mereka sangkakan"
Sebenarnya aku pun ingin berkata, hidayah-Nya lah yang membuat aku dan kami, para anak muda yang ibu maksud, memilih menutup aurat seperti ini, se-syar'i yang kami tau, dan sungguh hidayah itu tak akan datang dengan sendirinya, melainkan dicari..
"..Allah memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus” (QS. Al-Baqarah: 213)
Tapi ku hanya diam dan tersenyum, ibu ini baru ku kenal, rasanya tak etis menasihatinya dengan cara seperti itu, akhirnya aku hanya meng-angguk angguk dengan apa yang bu itu utarakan tentang pakaian anak muda zaman sekarang yang sok kebarat-baratan. Anggukkanku pertanda sepakat bahwa memang rasa malu manusia itu semakin parah dari masa ke masa. Tak malu lagi berpakaian serba terbuka di daerah yang tak tertutup. Ah ini zaman memang semakin mendekati hari akhir itu, tak mungkin semakin menjauhinya. Maka pantas bagiku tuk makin tertunduk malu dalam-dalam, adakah perbaikan takwaku menuju arah sempurna, atau semakin terpuruk dengan hal-hal duniawi?

"neng..?"
Ah.."ya bu??" ucapku sambil terbangun dari lamunanku
kemudian ku berpikir, selama ku melamun tadi ibu ini bicara apa lagi ya? bicaranya cepat sekali
"neng sudah menikah?" tanyanya
he?? "eeeee belum bu" jawabku
"aduh neng..segeralah nikah, ibu doakan semoga dapet suami yang kayak eneng, soleh dan bisa jadi imam yang baik" ujarnya polos
mungkin ia juga tak sadar kata-katanya tadi mengejutkanku
"eee hehe iya bu..amin" amin Allahumma amiiinnn..
"eh itu neng ada 213! haduh akhirnya..panas banget disini.." celoteh ibu itu sambil mengajak berlari menuju bis
aku pun segera naik dan sontak termenung di atas kursi bis
betapa hidayah itu memang bisa datang dari mana saja
tak hanya hidayah..bahkan doa-pun dapat terlantun dari orang yang bahkan baru dikenal..
Pagi yang cukup terik, aku sudah bersiap menuju daerah menteng. Disanalah dulu aku melaksanakan praktik kerja selama dua bulan. Kini aku harus kesana lagi tuk mengambil data yang diperlukan tuk sidang nanti. Menunggu bis 948 jurusan Priuk- Kampung melayu menjadi hal yang mengesalkan untukku pagi itu, setengah jam lebih aku berdiri di terminal Tanjung Priok dan kepalaku sudah mulai terasa pusing karena belum sempat sarapan saat beranjak dari rumah tadi. Akhirnya kuputuskan mencari tempat yang bisa kududuki agar ku tak tumbang di terminal itu. Menit-menit kian berlalu akhirnya bis yang kunanti datang juga.
Sempat kupelototi supir dan kenek bis itu karna datang terlalu lama, lalu sesaat bepikir, kenapa aku marah, toh bukan salah mereka, tapi emosiku menjawab, abiiisss lama banget datengnya, capek tau nunggunya!! Lhaaa bicara sendiri, mulai deh aut…uppsss
Aku pun bergegas naik saja dan memilih tempat duduk yang paling nyaman. Bis melaju cukup cepat karena kondisi jalan yang lumayan lancar, kondisi aman dan terkendali *kok laporan lalu lintas??
Bis sampai di matraman, aku bergegas turun. Menyebrangi jalan tuk menanti bis 213 yang melewati taman suropati. Di depan rumah makan padang aku berdiri. Agak lama aku tersadar bahwa disampingku ada seorang ibu-ibu yang sedari tadi mengoceh pelan tak jelas, terakhir yang kudengar ia berkata “lama banget sih bisnya!” kemudian ia menatapku. Aku tersenyum saja mengingat hal itu jua yang kugumamkan dalam hati. Terjadilah keluhan berikutnya tentang cuaca yang panas, lampu merah yang terlalu lama, polusi dan lain sebagainya.
Kemudian sang ibu bertanya padaku: “Neng nunggu apa?”
“nunggu bis yang lewat taman suropati bu, bisa 213 bisa 67, tapi 67 agak lama jadi kalo 213 lewat duluan ya saya naik bu, kalo ibu?”
“iya saya juga nunggu 213, neng-nya sendirian aja? Mau kemana?”
“ke Bappenas bu” jawabku
“ooohh” katanya sambil membetulkan jilbab
Kemudian ia bertanya, “Neng, jilbab ibu berantakan ya? Tadi buru-buru dari rumah”
Aku memperhatikan jilbabnya sambil berpikir, nih ibu-ibu gampang akrab juga ya sama orang baru dikenal, “emmm..ga kok bu..udah rapih”
"ooh hehe abis saya ngeliat eneng..rapi banget pake jilbabnya"ujarnya
aku tertawa sambil mencari sesuatu yang bisa memantulkan bayanganku alias ngaca! apa iya serapih yang ibu itu bilang, perasaan biasa saja..
kemudian ia berkata lagi "ini nih..kayak gini yang bener neng, yang kayak eneng, rapi, tertutup, ga dandan..duh ibu seneng ngeliat anak muda kayak eneng.."
"ahaha ibu bisa aja.." padahal dalam hati ku ber-istighfar
Jadi ingat..Saiyidina Ali bin Abu Talib r.a apabila dipuji orang, selalu berdoa begini; "Ya Allah, ya tuhanku! Ampunilah aku terhadap segala yang mereka katakan itu dan jadikanlah aku lebih baik daripada apa yang mereka sangkakan"
Sebenarnya aku pun ingin berkata, hidayah-Nya lah yang membuat aku dan kami, para anak muda yang ibu maksud, memilih menutup aurat seperti ini, se-syar'i yang kami tau, dan sungguh hidayah itu tak akan datang dengan sendirinya, melainkan dicari..
"..Allah memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus” (QS. Al-Baqarah: 213)
Tapi ku hanya diam dan tersenyum, ibu ini baru ku kenal, rasanya tak etis menasihatinya dengan cara seperti itu, akhirnya aku hanya meng-angguk angguk dengan apa yang bu itu utarakan tentang pakaian anak muda zaman sekarang yang sok kebarat-baratan. Anggukkanku pertanda sepakat bahwa memang rasa malu manusia itu semakin parah dari masa ke masa. Tak malu lagi berpakaian serba terbuka di daerah yang tak tertutup. Ah ini zaman memang semakin mendekati hari akhir itu, tak mungkin semakin menjauhinya. Maka pantas bagiku tuk makin tertunduk malu dalam-dalam, adakah perbaikan takwaku menuju arah sempurna, atau semakin terpuruk dengan hal-hal duniawi?

"neng..?"
Ah.."ya bu??" ucapku sambil terbangun dari lamunanku
kemudian ku berpikir, selama ku melamun tadi ibu ini bicara apa lagi ya? bicaranya cepat sekali
"neng sudah menikah?" tanyanya
he?? "eeeee belum bu" jawabku
"aduh neng..segeralah nikah, ibu doakan semoga dapet suami yang kayak eneng, soleh dan bisa jadi imam yang baik" ujarnya polos
mungkin ia juga tak sadar kata-katanya tadi mengejutkanku
"eee hehe iya bu..amin" amin Allahumma amiiinnn..
"eh itu neng ada 213! haduh akhirnya..panas banget disini.." celoteh ibu itu sambil mengajak berlari menuju bis
aku pun segera naik dan sontak termenung di atas kursi bis
betapa hidayah itu memang bisa datang dari mana saja
tak hanya hidayah..bahkan doa-pun dapat terlantun dari orang yang bahkan baru dikenal..
Komentar
Posting Komentar