Membina Angkatan Mujahid

Al-Islamu Ya’lu wa La Yu’la ‘Alaih (Islam itu tinggi dan tidak ada yang melebihi ketinggiannya).
Dalam perjuangan dakwahnya, Hasan Al-Bana memadukan hukum-hukum syariat dengan tuntutan zaman, antara cita-cita melangit seorang muslim dengan pandangan realitas dilapangan, antara kesempurnaan tarbiyah dan ta’lim dengan tatanan dan aktifitas politik serta ekonomi, dan lain-lain hal yang memenuhi hajat kaum muslimin dewasa ini. Gerakan Ikhwanul Muslimin yang didirikan Hasan Al-Banna di Mesir pad atahun 1928 yaitu dengan karya tulis maupun sepak terjangnya di lapangan dakwah untuk memompa semangat kebangkitan umat dengan contoh gerakan dakwah serta melalui metode tarbiyah yang digulirkannya sehingga Islam demikian mudah untuk dipahami, ayat-ayat Al-Quran terasa demikian hidup dihadapan pembacanya.

Dakwah pokok ikhwanul muslimin adalah pembaharuan dan paham zaman, yang diantaranya:
1. Warisan Rasulullah kepada kita seperti Al-Quran, As-Sunnah, contoh aplikasi dan produk yang dihasilkan dari ilmu dan amal. Sehingga perlu ada gerakan “menghidupkan Islam” menuntut penghidupan ilmu, amal, dan produknya (hati, jira dan ruhani)
2. Proses menghidupkan Islam menyangkut hal-hal berikut :
a. fiqih dusturi (fikih Negara); memformat kehidupan Islam dengannya
b. fiqih anniqabah (system peserikatan dagang); kongis dagang harus berangkat dari fiqih Islam dalam pelaksanaannya
c. Qawanin (undang-undang) seperti undang-undang sipil, kriminal, personal, Negara, niaga atau lainnya
d. Menghidupkan kembali rumah tangga Islam
e. Mengembalikan dinamika kehidupan Islam
f. Menghidupkan Islam yaitu dengan menghidupkan kembali sitem nilai Islam, baik secara global maupun secara sektoral

Prinsip umum dakwah Ikhwanul Muslimin
1. Semua partai pasti memiliki tujaun, sarana, strategi, system pengajaran dan pendidikan, prinsip-prinsip organisasi, undang-undang, khithah, dan berbagai aturan lainnya. Pun Ikhwanul Muslimin dengan mengibarkan hizbullah (partai Allah)
2. Pendapat para mujahid, setelah menggali kandungan Al-Qur’an., As
Sunnah, dan berdasar pada kaidah-kaidah ushuliyah yang berlaku bahwa Ikhwanul Muslimin adalah jamaah yang masuk dalam wilayah syariat Islam
3. Memelihara opini umu, baik di tingkat regional, nasional, maupun internasional merupakan salah satu prinsip Islam
4. Pegangan Ikhwan adalah ia harus dibenarkan oleh syariat dan ia harus sebanding dengan senjata musuh dan dapat mencapai tujuan
5. Prinsip yang menjadi pegangan dalam polotik luar negeri adalah prinsip maslahah dengan maslahah
6. Dalam perjalanan menuju sebuah wilayah Islam bersatu, setiap wilayah memiliki undang-undang sendiri berdasarkan syarriat dan semua wilayah pemerintahan Islam harus tunduk kepada kekuasaan amirul mukminin dan seluruh perangkat pemerintahan pusat dalam perspektif undang-undang yang berlaku.
7. Dalam Islam ada hukum yang dapat berubah mengikuti perubahan masa.

Dan kunci dakwah bagi seorang anggota Ikhwanul Muslimin adalah
1. Kita hendaknya memahami permasalah dakwah kita dan di sisi lain kita harus pandai mendakwahkannya
2. Pembicaraan dakwah yang harus kita sentuh adalah pembicaraan tentang ruh, jiwa dan hati, kebutuhan hati akan dinamika, kebutuhan jiwa akan kebersihan, dan kebutuhan ruh akan pengabdian yang ikhlas kepada Allah.
3. Kita harus memahami kapasitas intelektual orang yang kita ajak bicara karena dalam konteks itulah pembicaraan dan dakwah berlangsung.

Tujuan pokok Ikhwanul Muslimin :
1. Membebaskan negeri Islam dari semua kekuatan asing. Ini merupakan hak asasi dari setiap manusia yang ditidak diingkari
2. Menegakkan di atas tanah air ini sebagai Negara Islam yang merdeka, yang memberlakukan hukum-hukum Islam, menerapkan undang-undang sosialnya, memproklamirkan prinsip-prinsip dan nilai-nilainya, dan menyampaikan dakwah Islam dengan bijaksana kepada seluruh umat manusia.
Tingkatan amal yang dituntut dari seorang yang tulus adalah :
1. Individu; adanya perbaikan diri sehingga ia menjadi orang yang kuat fisik, akhlak, luas wawasan, benar ibadahnya dsb.
2. Rumah tangga; pembentukan keluarga muslim yaitu dengan mengkondisikan keluarga agar menghargai fikrahnya seperti menjaga etika Islam dalam setiap aktivitas, memilih istri yang baik, mendidik anak dan membimbing mereka.
3. Masyarakat; membimbing masyarakat yakni dengan menyebarkan dakwah, amar ma’ruf nahi mungkar, bersegera dalam kebaikan dsb.
4. Pemerintah; yaitu memperbaiki keadaan pemerintah sehingga menjadi pemerintah Islam yang baik.
5. Daulah Islamiyah; bahwa daulah ini merupakan daulah yang memimpin Negara-negara Islam dan menghimpun ragam kaum muslimin, mengembalikan keagungan, serta mengembalikan wilayah yang telah hilang dan tanah air yang telah dirampas oleh penguasa asing baik secara politik, ekonomi maupun moral.
6. Tegaknya Daulah dan Khilafah Islamiyah; yaitu bahwa semua Negara Islam harus bebas dari cengkeraman kekuasaan asing dan harus tertegak sebuah daulah Islamiyah yang bebas.
7. Dunia seluruhnya hanya tunduk kepada Allah SWT; dengan daulah Islamiyah ini yang mengibarkan panji-panji jihad dan dakwah, sehingga dunia seluruhnya akan menjadi berbahagia dengan ajaran-ajaran Islam

Dalam Risalah Ta’alim, Hasan Al-Banna mengatakan, “Tahapan dakwah ini ada tiga macam :
1. Ta’rif
Tahapan ini dilakukan dengan menyebarkan fikrah Islam di tengah masyarakat yaitu dengan system dakwah berupa system kelembagaan. Dengan kata lain ta’rif ini yaitu memperkenalkan Islam secara umum kepada orang baik secara alamiah maupun praktis. Ini menuntut pengajaran, batas minimal spesialisasi, dan batas minimal komitmen. Urgensinya adalah kerja social bagi kepentingan umum, sedangkan medianya adalah nasehat dan bimbingan sekali waktu, serta membangun
berbagai tempat yang berguna di waktu lain. Seperti kegiatan ceramah-ceramah, halaqah (baik umum maupun khusus), dakwah fardiyah (perorangan), dan studi mandiri penyebaran buku serta penjelasan
2. Takwin
Tahapan dakwah ini ditegakkan dengan melakukan seleksi terhadap anasir positif untuk memikul beban jihad dan untuk menghimpun berbagai bagian yang ada. Atau takwin ini adalah mentarbiyah orang dengan standar keanggotaan dalam jamaah untuk memainkan perannya yang optimal bagi pelayanan Islam. Ini dilakukan melalui usrah, halaqah, dan daurah. Halaqah untuk mendapatkan program ilmiah yang mendesak bagi masing-masing status keanggotaan; usrah untuk mendapatkan program khusus; dan daurah untuk mendapatkan bekal yang mendesak untuk tahapan tertentu.
3. Tanfidz
Dakwah dalam tahapan ini adalah jihad, tanpa kenal sikap plin-plan kerja terus menerus untuk menggapai tujuan akhi, dan kesipapan menaggung cobaan dan ujian yang tidak mungkin bersabar atasnya kecuali orang-orang yang tulus. Tidaklah dapat dakwah ini meraih keberhasilan kecuali dengan “ketaatan yang total” juga. Untuk inilah shaf pertama Ikhwanul Muslimin berbaiat pada bulan Rabi’ul Awwal 1359 H.
Agar ketiga hal ini dapat sukses maka kita harus memiliki tiga perangkat yakni perangkat ta’rif, perangkat takwin, dan perangkat tanfidz. Setiap perangkat harus memiliki manhaj, perencanaan, metode, dan kecakapan. Semuanya harus dalam naungan hierarki organisasi, program kerja yang komprehensif, serta persepsi yang jelas tentang pendidikan dan pengajaran. Ini menuntut kejelasan dalam peringkat keanggotaan, kualifikasi, dan sinergi fungsi berbagai perangkat.

RISALAH TA’LIM DAN SENDI-SENDI PEMBENTUKAN PRIBADI ISLAM
Sendi-sendi kepribadian Islam yang dapat menegakkan Islam sekaligus mewujudkan tujuan-tujuannya- melaui bingkai tahapan dakwah- berjumlah sepuluh sendi (rukun bai’at), antara lain:
1. Fahm (kefahaman)
Bahwa kita yakin fikrah kita adalah “fikrah Islamiyah yang bersih”. Kefahaman ini seperti memahami batas-batas ushulul ‘isyirin (dua prinsip) antara lain :
1) Islam adalah system yang menyeluruh yang menyentuh seluruh segi kehidupan
2) Alquran yang mulia dan Sunnah Rasul yang suci adalah tempat kembali setiap muslim untuk memahami hokum-hukum Islam
3) Iman yang tulus, ibadah yang benar, dan mujahadah (kesungguhan dalam beribadah) adalah cahaya dan kenikmatan yang ditanamkan Allah di dalam hati hamba-Nya yang Dia kehendaki
4) Jimat, mantera, guna-guna, ramalan, perdukunan, penyingkapan perkara ghaib, dan semisalnya merupakan sebuah kemungkaran yang harus diperangi, kecuali mantera dari ayat Al QUr’an atau ada riwayat dari Rasulullah saw.
5) Pendapat imam atau wakilnya tentang sesuatu yang tidak ada teks hukumnya, tentang sesuatu yangmengandung ragam interpretasi, dan tentang sesuatu yang membawa kemaslahatan umum bisa diamalkan sepanjang tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah umum syariat.
6) Setiap otang boleh diambil atau tidak kata-katanya, kecuali Al-Ma’shum (Rasulullah) saw.
7) Setiap muslim yang belum mencapai kemampuan menelaah terhadap dalil-dalil hokum furu’(cabang) hendaklah mengikuti pemimpin agama dan bersamaan dengan itu berusaha semampu yang ia lakukan untuk mempelajari dalil-dalilnya.
Khilaf dalam masalah furu’(cabang) hendaknya tidak menjadi factor pemecah belah agama, tidak menyebabkan permusuhan, dan tidak menyebabkan kebencian.
9) Setiap masalah yang amal tidak dibangun di atasnya, sehingga menimbulkan perbicangan yang tidak perlu, adalah kegiatan yang dilarang secara syar’i.
10) Ma’rifat kepada Allah dengan sikap tauhid dan penyucian (Dzat)-Nya adalh setinggi-tinggi tingkatan aqidah Islam.
11) Setiap bid’ah dalam agama Allah yang tidak ada pijakan tetapi dilarang baik oleh hawa nafsu manusia, baik berupa penambahan maupun pengurangan, adalah kesesatan yang wajib diperangi dan dihancurkan dengan menggunakan sarana yang sebaik-baiknya, yang jika tidak justru menimbulkan bid’ah lain yang lebih parah.
12) Perbedaan pendapat dalam masalah bid’ah idhafiyah (bid’ah penambahan; misal berdzikir dengan suara keras), bid’ah tarkiyah (bid’ah penolakan missal mengharamkan sesuatu yang halal), dan bid’ah iltizam (membuat aturan-aturan bagi ibadah yang bersifat mutlak, seperti membaca secara rutin adzkar) terhadap ibadah mutlaqag ( yang tidak ditetapkan, baik cara maupun waktunya) adalah perbedaan dalam masalah fikih.
13) Cinta kepada orang-orang shalih, memberikan penghormatan kepadanya dan memuji karena perilaku baiknya adalah bagian dari taqarub kepada Allah SWT.
14) Ziarah kubur, kubur siapapun adalah sunah yang disyariatkan dengan cara-cara yang diajarkan oleh Rasulullah saw.
15) Doa apabila diiringi denga tawasul kepada Allah dengan salah satu makhluk-Nya adalah perselisihan furu’ menyangkut tata cara berdoa, buka termasuk masalah aqidah
16) Istilah -keliru- yang sudah mentradisi (misal praktek ribawi) tidak akan mengubah hakekat hokum syar’inya. Akan tetapi ia harus disesuaikan dengan maksud dan tujuan syariat itu dan kita berpatokan dengannya.
17) Aqidah adalah pondasi segala aktivitas (aktivitas hati lebih penting dari aktivitas fisik). Namun usaha untuk menyempurnakan keduanya merupakan tuntutan syari’at
18) Islam itu membebaskan akal pikiran, menghimbau untuk melakukan telaah terhadap alam, mengangkat derajat ilmu dan ulamanya sekaligus, serta menyambut hadirnya segala sesuatu yang melahirkan maslahat dan manfaat.
19) Pandangan syar’i dan pandangan logika memiliki wilayah masing-masing yang tidak dapat saling memasuki secara sempurna (selalu beririsan)
20) Kita tidak mengkafirkan seorang muslim yan gtelah mengikrarkan dua kalimat syahadat, mengamalkan kandungannya, dan menunaikan kewajiban-kewajibannya, baik karena lontaran pendapatmaupun karena kemaksiatannya, kecuali jika ia melakukan tindakan kufur, mendustakan Al-Qur’an secara terang-terangan.
2. Ikhlas
Ikhlas bahwa akhul muslim dalam setiap kata, aktivitas, dan jihadnya harus dimaksudkan semata-mata untuk mencari ridha Allah dan pahala-Nya tanpa mempertimbangkan aspek kekayaaan, penampilan, pangkat, gelar, kemajuan, atau keterbelakangan. Dengan itulah ia menjadi tentara fikrah dan aqidah, bukan tentara kepentingan dan ambisi pribadi.
3. Amal
Amal (aktivitas) ini adalah buah dari ilmu dan keikhlasan
4. Jihad
Jihad ini maksudnya adalah sebuah kewajiban yang hukumnya tetap hingga hari kiamat. Dimana peringkat pertma jihad adalah pengingkaran dengan hati dan peringkat terakhirnya adalah berperang di jalan Allah swt. Diantara keduanya terdapar jihad denga pena, tangan, dan lisan berupa kata-kata yang benar dihadapan penguasa yang zhalim.
5. Tadhiyah (pengorbanan)
Tadhiyah ini maksudnya adalah pengorbanan jiwa, harta, waktu, kehidupan, dan segala sesuatu yang dipunyai oleh seseorang untuk meraih tujuan. Tidak ada perjuangan di dunia ini kecuali harus disertai dengan tadhiyah. Demi fikrah, janganlah mempersempit pengorbanan, karena sesungguhnya ia memiliki balasan yang agung dan pahala yang indah.
6. Taat
Taat ini maksudnya adalah menunaikan perintah dengan serta merta, baik dalam keadaan sulit maupun mudah, saat bersemangat maupun malas. Yang disesuaikan dengan tahapan dakwah ta’rif, takwin dan tanfidz
7. Tsabat (keteguhan)
Tsabat (keteguhan) ini maksudnya adalah bahwa seorang akh hendaknya senantiasa bekerja sebagai mujahis di jalan yang mengantarkan pada tujuan, betapapun jauh jangkauannya dan lama masanya hingga bertemu dengan Allah dalam keadaan yang tetap demikian. Dengan demikian ia telah berhasil mendapatkan salah satu dari dua kebaikan yakni menang atau syahid di jalan-Nya
8. Tajarrud ((kemurnian)
Tsabat (keteguhan) ini maksudnya adalah membersihkan pola piker dari prinsip nilai dan pengaruh individu yang lain, karena ia adalah setinggi-tinggi dan selengkap-lengkap fikrah.
9. Ukuhwah
Ukuhwah ini maksudnya adalah terikatnya hati dan nurani dengan ikatan akidah. Aqidah adalah sekokoh-kokoh dan semulia-mulia ikatan. Ukhuwah adalah saudara nya keimanan sedangkan perpecahan adalah saudaranya kekufuran. Kekuatan yang pertama adalah kekuatan persatuan. Tidak ada persatuan tanpa cinta kasih. Standar minimal cinta kasih adalah kelapangan dada dan standar maksimal adalah itsar (mementingkan orang lain dari diri sendiri)
10. Tsiqah (kepercayaan)
Tsiqah (kepercayaan) ini maksudnya adalah rasa puasnya seorang tentara atas komandannya, dalam hal kapasitas kepemimpinannya maupun keikhlasannya, dengan kepuasan mendlam yang menghasilkan perasaan cinta, penghargaan, penghormatan, dan ketaatan.
H. KEWAJIBAN SEORANG MUJAHID
Kewajiban seorang mujahid :
1. Memiliki wirid harian dari kitabullah tidak kurang dari satu juz. Usahakan untuk menghatamkan Al-Qur’an dalam waktu tidak lebih dari sebulan dan tidak kurang dari tiga hari
2. Membaca Al-Qur’an dengan baik, memperhatikan dengan seksama, dan merenungkan artinya
3. Mengkaji Sirah Nabi dan sejarah generasi salaf sesuai dengan waktu yang tersedia
4. Bersegera melakukan general ckeck up secara berkala atau berobat, begitu penyakit terasa mengenai. Di samping itu perhatikan factor-faktor penyebab kekuatan dan perlindungan tubuh, serta hindarilah factor-faktor penyebab lemahnya kesehatan.
5. Menjauhi sikap berlebihan dalam mengonsumsi kopi, the, dan minuman perangsang semisalnya. Janganlah meminumnya kecuali dalam keadaan darurat dan hendaklah menghindarkan diri sama sekali dari rokok.
6. Perhatikan urusan kebersihan dalam segala hal menyangkut tempat tinggal, pakaian, makanan, badan, dan tempat kerja, karena agama ini dibangun di atas dasar kebersihan
7. Jujur dalam berkata dan sekali-kali berdusta
8. Menepati janji; jangan mengingkarinya, bagaimanapun kondisi yang dihadapi
9. Menjadi seorang yang pemberani dan tahan uji. Keberanian yang paling utama adalah terus terang dalam mengatakan kebenaran, ketahanan menyimpan rahasia, berani mengakui kesalahan, adil terhadap diri sendiri, dan dapat menguasainya dalam keadaan marah sekalipun
10. Senantiasa bersikap tenang dan terkesan serius. Namun janganlah
keseriusan ini menghalangi dari canda yang benar, senyum dan tawa.
11. Memiliki rasa malu yang kuat, berperasaan yang sensitive, dan peka oleh kebaikan dan keburukan, yakni munculnya rasa bahagia untuk yang pertama dan rasa tersiksa untuk yang kedua. Juga bersikap rendah hati dengan tanpa menghinakan diri, tidak bersikap taklid, dan tidak terlalu berlunak hari. Juga hendaklah menuntut-dari orang lain- yang lebih rendah dari martabatmu untuk mendapatkan martabatmu yang sesungguhnya.
12. Bersikap adil dan benar dalam memutuskan suatu perkara pada setiap situasi. Jangan kemarahan melalaikan dari berbuat kebaikan, janganlah mata keridhaan dipejamkan dari perilaku yang buruk. Janganlah permusuhan membuat lupa dari pengakuan jasa baik, dan hendaklah berkata benar meskipun itu merugikan atau merugikan orang yang paling dekat denganmu.
13. Menjadi pekrja keras dan terlatih dalam aktivitas social. Merasa bahagia jika dapat mempersembahkan bakti untuk orang lain, gemar membesuk orang sakit, membantu orang yang membutuhkan, menanggung, menanggung orang yang tertimpa musibah meskipun hanya dengan kata-kata. Hendaklah juga senantiasa bersegera untuk berbuat kebaikan.
14. Berhati kasih, dermawan, toleran, pemaaf, lemah lembut kepada manussia maupun binatang, berperilaku baik dalam berhubungan degnan semua orang, menjaga etika-etika sosial Islam, menyayangi yang kecil dan menghormati yang besar, memberi tempat kepada orang lain dalam majelis, tidak memata-matai, tidak mengumpat, meminta izin jika masuk maupun keluar rumah, dll.
15. Pandai membaca dan menulis, memperbanyak muthala’ah terhadap risalah ikhwan, koran, majalah, dan tulisan lainnya. Hendaklah membangun perpustakaan khusus, seberapa pun ukurannya; konsentrasi terdapap terhadap spesifikasi keilmuan dan keahlian jika seorang spesialis; dan kuasailah persoalan, Islam secara umum yang dengannya dapat membangun persepsi yang baik untuk menjadi referensi bagi pemahaman terhadap tuntutan fikrah
16. Memiliki proyek usaha ekonomi, betapapun seorang kaya; utamakan proyek yang mandiri, betapapun kecilnya; dan cukuplah dengan apa yang ada pada dirimu, betapapun tingginya kapasitas keilmuan.
17. Jangan terlalu berharap untuk menjadi pegawai negeri dan jadikanlah ia sebagai sesempit-sempit pintu rezeki, namun jangan pula ditolak jika diberi peluang untuk itu. Janganlah melepaskannya kecuali jika ia benar-benar bertentangan dengan tugas-tugas dakwah.
18. Perhatikan penunaian tugas-tugasmu (bagaimana kecermatan dan kualitas), jangan menipu, dan tepatilah kesepakatan.
19. Penuhi hakmu dengan baik, penuhi hak-hak orang lain dengan sempurna tanpa dikurangi dan dilebihkan, dan janganlah menunda-nunda pekerjaan.
20. Menjauhkan diri dari judi dengan segala macamnya, apapun maksud di baliknya. Hendaklah juga menjauhi mata pencaharian yang haram, betapapun keuntungan besar yang ada dibaliknya.
21. Menjauhkan diri dari riba dalam setiap aktivitas dan sucikanlah ia sama sekali dari riba.
22. Memelihara kekayaan umat Islam secara umum dengan mendorong berkembangnya pabrik-pabrik dan proyek-proyek ekonomi Islam. Hendaklah menjaga setiap keeping mata uang agar tidak jatuh ke tangan orang-orang non-muslim dalam keadaan bagaimanapun. Janganlah makan dan berpakaian kecuali produk negeri Islam sendiri.
23. Memiliki kontribusi finansial dalam dakwah, tunaikan kewajiban zakatmu, dan jadikan sebagian dari hartamu itu untuk orang yang meminta dan orang yang kekurangan, betapapun, betapapun kecil penghasilanmu.
24. Menyimpan sebagian dari penghasilanmu untuk persediaan masa-masa sulit, betapapun sedikit, dan jangan sekali-kali menyusahkan diri untuk mengejar kesempurnaan.
25. Bekerja-semampu yang dilakukan-untuk menghidupkan tradisi Islam dan mematikan tradisi asing dalam setiap aspek kehidupan, misalnya ucapan salam, bahasa, sejarah, pakaian, perabot rumah tangga, cara kerja dan istirahat, cara makan dan minum, cara dating dan pergi, serta gaya melampiaskan rasa suka dan duka. Hendaknya menjaga sunnah dalam setiap aktivitas tersebut.
26. Hendaknya memboikot peradilan setempat atau peradilan yang tidak Islami, demikian juga gelanggang-gelanggang, penerbitan-penertiban, organisasi-organisasi, sekolah-sekolah, dan segenap institusi yang tidak mendukung fikrah secara total.
27. Senantiasa merasa diawasi oleh Allah swt, mengingat akhirat dan bersiap-siap untuk menjemputnya, mengambil jalan pintas untuk menuju ridha Allah dengan tekad yang kuat, serta mendekatkan diri kepada-Nya dengan ibadah sunnah, puasa tiga hari-minimal setiap bulan, memperbanyak dzikir (hati dan lisan), dan berusaha mengamalkan doa yang diajarkan pada setiap kesempatan.
28. Bersuci dengan baik dan usahakan agar senantiasa dalam keadaan berwudhu (suci) di setiap besar waktunya.
29. Melakukan shalat dengan baik dan senantiasa tepat waktu dalam menunaikannya. Usahakan untuk senantiasa berjamaah di masjid jika ia mungkin dilakukan.
30. Berpuasa Ramadhan dan berhaji dengan baik, jika mampu melakukannya. Kerjakanlah sekarang juga jika telah mampu.
31. Senantiasa menyertaimu dirimu dengan niat jihad dan cinta mati syahid. Bersiaplah untuk itu kapan saja kesempatan untuk itu tiba.
32. Senantiasa memperbarui taubat dan istighfar. Berhati-hatilah terhadap dosa kecil, apalagi dosa besar. Sediakanlah-untuk dirimu-beberapa saat sebelum tidur untuk mengintrospeksi diri terhadap apa-apa yang telah dilakukan; yang baik maupun yang buruk. Perhatikan waktun, karena waktu adalah kehidupan itu sendiri. Janganlah pergunakan ia-sedikit pun-tanpa guna, dan janganlah ceroboh terhadap hal-hal yang syubhat agar tidah jatuh ke dalam kubangan yang haram.
33. Berjuang meningkatkan kemampuanmu dengan sungguh-sungguh agar dapat menerima tongkat kepemimpinan. Hendaklah menundukkan pandangan, menekan emosi, memotong habis selera rendah dari jiwamu. Bewalah ia hanya untuk menggapai yang halal dan baik, serta hijabilah ia dari yang haram dalam keadaan bagaimanapun.
34. Menjauhi khamer dan seluruh makanan atau minuman yang memabukkan sejauh-jauhnya
35. Menjauh dari pergaulan dengan orang jahat dan persahabatan dengan orang yang rusak serta jauhilahtempat-tempat maksiat
36. Perangi tempat-tempat iseng, jangan sekali-kali mendekatinya, serta jauhilah gaya hidup mewah dan bersantai-santai.
37. Mengetahui anggota katibahmu satupersatu dengan pengetahuan yang lengkap, dan kenalkanlah dirimu kepada mereka selengkap-lengkapnya. Tunaikanlah hak-hak ukhuwah mereka dengan seutuhnya; hak kasih saying, perhargaan, pertolongan, itsar. Hendaklah senantiasa hadir di majelis mereka. Tidak absent kecuali karena udzur darurat, dan pegang teguhnyalah itsar dalam pergaulanmu dengan mereka
38. Hindari hubungan dengan organisasi atau jamaah apapun, sekiranya hubungan itu tidak membawa maslahat bagi fikrahmu, terutama jika diperintahkan untuk itu.
39. Menyebarkan dakwahmu dimanapun dan memberi informasi kepada pemimpin tentang segala kondisi yang melingkupimu. Dan janganlah berbuat sesuatu yang berdampak strategis kecuali dengan seizinnya.
40. Senantiasa menjaga hubungan, baik secra ruhiyah maupun’amali, dengan jamaah dan menempatkan dirimu sebagai ”tentara yang berada di tangsi yang menanti instruksi komandan”
Lima slogan atas prinsip-prinsip ini:
1. Allah Ghayatuna (Allah adalah tujuan kami)
2. Ar-Rasul Qudwatuna (Rasul adalah teladan kami)
3. Al-Qur’an Syir’atuna (Al-Qur’an adalah undang-undang kami)
4. Al-Jihad sabiluna (jihad dalah jalan kami)
5. Asy-Syahadah umniyyatuna (Mati syahid adalah cita-cita kami)
Jika dihimpun dalam berbagai kata berikut : kesederhanaan, tilawah, shalat, keprajuritan, akhlak.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

bantulah..Allah kan membantumu :)