Disadur dari blogger di Indonesia
Akhirnya kutemukan artikel tersebut, terimakasih untuk si penulis
Tidak bisa dipungkiri dan tentu tidak boleh dicegah, banyak juga para penulis muda penuh bakat sepeti kamu itu, menulis dengan niat dakwah atau sosial. Sebagain paserta pelatihan juga mengaku bahwa mereka sangat ingin menulis tentang ajaran-ajaran agama mereka. Meraka bagitu mengidamkan bisa memberi bimbingan dan pencerahan kepada orang-orang di sekelilingnyaa yang masih banyak melakukan ketidakbaikan dalam sudut pandang agama.
Well … saya hargai niat itu.
Saya pesankan kapada meraka, agar niat tersebut terus dipertahankan dan dikembangkan. Sehingga niat sucinya untuk menyampaikan ayat-ayat Tuhan kepada para manusia yang belum sadar, bisa terlaksana. Pada umumnya mereka memiliki tingkat kegigihan yang sangat tinggi. Semangatnya menggebu, seperti api berkobar, laksana matahari di siang hari. Saya sangat salut untuk yang satu itu!
Bagaimana, pakah kamu ada yang punya niat seperti itu dan memiliki semangat setinggi itu? Nah, sekarang coba deh kita koreksi dan kritisi niat tersebut. Walaupun banyak nilai positif, tapi sanagt mugkin lho ya masih memiliki potensi negatif.
Positif
1. Tuhan sebagai sumber motivasi
Kamu yang memakai nilai-nilai keagamaan atau unsur-unsur sosial sebagai biat awal untuk menulis, kamu akan mengangap Tuhan sebagai sumber motivasi kamu. Dalam dada kamu ada sebuah energi yang jauh lebih dahsyat meski bila dibandingkan dengan ribuan reaktor nuklir sekalipun. Dalam dada kamu ada sesuatu yang bisa disebut sebagai petunjuk dan bimbingan Tuhan. Kamu merasa menjadi pelayan bagi Tuhan yang setiap saat kamu sembah dan kamu puja.
2. Energi untuk menulis sangat besar
Sebagai akibat adanya energi terdahysa dalam dada, kamu so pasti akan memilik energi yang sangat besar. Kamu tidak mustahil menulis buku dengan tebal ribuan halaman dengan niat seperti itu. Banyangkan kamu memiliki pesawat dengan bahan bakar energi nuklir. Satu hari mungkin kamu bisa sampai di Yupiter. Ini bukan kalimat yang hiperbolik lho. Karena memang tidak ada sumber semangat yang labih dahsyat melainkan Tuhan sebagai alasan sekaligus tujuan setiap gerak dan langkah kamu.
3. Orientas pahala dan dakwah
Setiap ibadah yang kamu lakukan, biasanya atau bahkan pasti ada nilai pahalanya. Dalam kehidupan ini, kamu sangat serius menjani kehidupan dengan hitung-hitungan pahala sesuai dengan ajaran Tuhan yang tertuang dalam kitab suci. Sebab kamu begitu mengidamkan masuk ke dalam sorga dan menikmati berbagai kedamaian di sana.
Dalam keadaan ini, kamu bisa sangat serius menulis. Kamu anggap menulis adalah bagain tak terpisahkan dari ibadah kamu kepada Tuhan. Sehingga kamu akan mendapat pahala dari Tuhan, yang pada akhirnya kamu bisa masuk ke dalam sorga yang telah Tuhan janjikan padamu.
Kamu juga akan selalu berpikir bahwa tulisan-tuisan kamu bisa bermanfaat untuk orang-orang di sekeliling kamu. Kamu akan memberi penyadaran kepada teman-teman kamu yang terjerumus ke dalam dunia terlarang, seperti penyalahgunaan narkoba dan praktik sek bebas. Kamu menulis buku panduan reama agar bisa tetap menjadi hamba Tuhan yang baik. Lebih dari satu, kamu akan menulis berbagai buku tentang agama dan sosial.
Kamu akan sangat cerdas dan begitu jeli memerhatikan fenomena sosial. Kamu akan mampu menulis buku-buku tentang kritik sosial. Kamu juga mampu menulis buku-buku yang bisa dimanfaatkan sebagai salah satu solusi dari bergai ketimpangan sosial yang terjadi di sekitar kamu.
4. Bangga dengan jalur dakwah
Well … tidak dapat dipungkiri, bahwa hal yang paling membanggakan adalah menjadi bagian dari laskar Tuhan. Setiap orang akan bersedia megorbankan jiwa dan raga untuk memertahankan agama, nabi, kitab suci dan Tuhannya. Bukankah pernah terjadi dalam sejarah kehidupana manusia, serangkaian perang terbesar dan terlama, atas nama agama. Bayangkan ada sebuah perang berkecamuk selama nyaris 200 tahun dan melibatkan belasan negara atau kerajaan. Para laskar Tuhan tersebut sangat merasa bangga dengan pengorbanan yang mereka lakukan. Walaupun di pihak lain juga beralasan sama.
Dengan niat kamu menulis untuk dakwah (memberi pencerahan kepada orang lain), kamu akan sangat bangga dengan identitasmu seperti itu. Kamu mendapatkan puncak kepuasan, sebab kamu yakin diri kamu adalah bagian tak terpisah dari Laskar Tuhan, hanya saja, kamu bergerak dalam bidang kepenulisan. Kamu tidak perlu mengangkat senjata. Kamu tidak perlu menembakan peluru. Kamu cukup mengangkat dan mengoreskan pena. Itulah senjata terdahsyat yang kamu punya.
Dengan begitu, daya juang, saya kratifitas dan hal-hal penting lain yang sangat dibutuhkan dalam proses kepenulisan, akan kamu miliki dengan cukup baik. Kamu memang layak bangga sebab kamu adalah laskar Tuhan yang mendapat jaminan sorga. Mudah-mudahan kamu sudah bisa memahami hal tersebut secara cukup dewasa.
Well … jadi dengan begitu, apakah kamu berfikir bawah niat dakwa dalam menulis adalah nait terbaik, sehingga kamu harus memakai niat tersebet?
Eit … tunggu dulu. Alangkah lebih biak apabila kita berani juur, berani terus terang dan berani mengkritis diri kita sendiri. Jangan-jangan, niat dakwah tersebut masih menyimpan kemungkinan-kemungkinan negatif?!
Berdasarkan hasli analisa kami dari para peserta pelatihan, kami juga ternyata menemukan berbagai kemungkinan negatif dari niat dakwah tersebut. Apasajakah kemungkinan negatif tersebet?
Yuk kita simak bareng-bareng!
Negatif
1. Jadi menggurui orang lain
Banyak penulis yang memilik semangat mambara untuk berdakwah, kemudian tidak bisa mengolah semangat tersebut dengan baik. Ia tidak sabar untuk segera ‘menyadarkan’ orang lain dari berbagai ‘ketersesatan’. Sehingga ia tidak membuat suatu managemen apik terhadap niat dan langkahnya tersebut. Sehingga yang ia lakukan adalah menulis dengan cara terlalu ‘apa adanya’.
Ketika ia menyaksikan berbagai perilaku negatif yang diakukan teman-teman di sekeliling, ia segera melakukan tindakan pencegahan secara keras dan kasar. Ia terlupa akan unsur-unsur kelembutan dan berbagai cara empatis yang biasa dilakukan oleh apada nabi dalam berdakwah. Ia terlalu ingin melihat orang lain ‘berubah’ dengan cara cepat dan massal. Sesegera mungkin masarakat di sekelilingnya harus berbudaya ketuhanan! Contohnya, tentu kamu sering melihat ada perilaku keras dan kasar dalam sebuah kegiatan yang mengstasnamakan Tuhan atau agama.
Tentu di sini saya sama sekali tidak menyebutkan bahwa perilaku mereka itu salah. Saya tidak sedang menjadi seorang hakim. Dalam buku ini saya hanya sekedar menjadi seorang sahabat kamu yang berbagai teori baru tentang kepenulisan. Apakah cara-cara para ‘Laskar Tuhan’ yang saya paparkan pada paragraf di atas adalah sesuatu yang tidak baik atau salah, bukan pekerjaan saya dalam buku ini.
Okay?!
Well … kecenderungan keras dan kasar ini tampaknya juga telah terjadi pada sebagain para penulus muda penuh bakat seperti kamu. Banyak saya temukan tipe penulis seperti ini. Ia selalu berfikir tentang tulisan yang berisi ayat-ayat Tuhan, doktin-doktin agama dan sejenisnya. Ia ingin masyarakat di sekitarnya segera berubah menjadi masyarakat yang berketuhanan. Karena ia yakin menulis bisa dijadikan sebagai lahan dakwah, maka ia pun kemudian menuangkan ide dan gagasan cemerlang tersebut dalam karya tulis.
Namun apa yang terjadi kemudian?!
Kami sering tercengan ketika memelihat ada cerpen yang mirip dengan khotbah jum’at. Sebuah cerpen dengan panjang 7 halaman dipenuhi doktin-doktin agama, kutipan ayat-ayat kitab suci secara teks (apa adanya begitu saja), bukan secara tersirat. Sehingga pembaca cerpennya tercengang. Kami pun terkejut. Para pembaca karyanya jadi merasa sangat digurui. Diceramahi. Ia sama sekali tidak memperdulikan nilai-nilai keindahan dalam sebuah karya sastra atau fiksi.
Pada naskah nonfiksi juga saya seringb menemukan karya serupa dengan itu. Dalam nonfiksi memang bisa saja atau terdapat ruang yang lebih memungkinkan untuk si penulis menuliskan doktrin-doktrin agama, tek-teks kitab suci secara tekstual dan sejenisnya. Namun adakalanyaa saya menemukan, secara keseluruhan isi bukunya sangat menghujat banyak pihak, menggurui pembaca dan banyak hal yang membuat pembaca merasa tidak betah.
Saya tidak menyatakan naskah tersebut salah. Namun … alangkah lebih baik jika kamu menulis buku yang bermuatan agama, secara lebih santun dan halus. Bukankah kamu sendiri lebih bisa menerima teguran, koreksi dan berbagai hal tentang penyadaran dari orang lain, secara halus dan penuh empatis. Misalkan dalam suatu waktu kamu berbuat salah, lalu ada orang lain menegur kamu dengan kasar dan tidak simpati. Apakah kamu akan bersedia berubah menjadi baik?
Kamu tahu bahwa itu salah, namun kamu tidak mau berubah menjadi baik gara-gara orang yang mengingatkaan kamu membuat hati kamu terluka. Kamu merasa dipermalukan di depan orang lain. Kamu merasa direndahkan. Kamu merasa dipandang sebagai orang bodoh. Apakah itu mengenakkan buat kamu?
Nah, begitu juga dengan pembaca. Mereka unya logika masing-maing. Mereka punya watak masing-masing. Mereka punya latar belakang masing-masing. Apakaha mau kamu doktrin begitu saja? Lauan benar, bahwa yang kamu samaikan dalam buku itu adalah kebanaran.
Maka berhati-hatilah tehadap kebaikan yang kontrapoduktif. Kebaikan yang malah destruktif. Kebaikan yang malah menimbulkan permasalahan baru. Kebaikan yang malah membuat orang lain terluka, kecewa dan semakin terperosok dalam kesalahan lebih lanjut. Kebaikan yang malah membuat orang lain menjauh dari kebaikan itu sendiri.
2. Cenderung sempit aliran
Nah … ini memang penyakit manusia pada umumnya. Secara sosilogis, manusia (apapun latar belakang agama, suku dan berbagai status sosial lain) akan cenderung untuk mengelompokkan diri. Fenomena in-gorup dan out-gorup memang tidak bisa dihilangkan. Bahkan upaya untuk membuat kelompok netral, malah kemudian membuat kelompok itu adalah out gorup baru bagi kelompok lain.
Berdasarkan pengetahun saya, semua agama di dunia ini memang tidak ada yang ‘utuh’. Nyaris semua agam ‘pecah’. Kalau kamu bersedia jujur, bukankah dalam agama yang kamu yakini sejak lahir itu ada perselisihannya juga. Ada golongan dalam agama kamu yang cenderung mengikuti tokoh besar tertentu, yang lainnya mengikuti tokoh besar yang lain. Ada golongan dalam agama yang lebih fokus pada imam tertentu dan sebagain lain sangat kuat mengikuti imam yang lainya lagi.
Diantara berbagai aliran dalam keagamaan tersebut, ada pihak yang berupaya menjadi panengah yang sangat berupaya untuk ‘mempersatukan’ semua aliran yang ada dalam agama yang ia anut sekaligus yang sangat ia cintai. Maka ia berupaya untuk membuat kelompok yang tidak memandang aliran. Ia membangun perkumpulan yang tidak memperhitungkan mazhab. Ia ingin jadi ‘milik semua pihak’. Namun apa yang tejadi kemudian? Kelompoknya akan dianggap aliran baru oleh kelompok lain.
Yah … begitulah memang fenomena sosiologi manusia.
Bagaiman dengan dunia kepenulisan yang mengambil tema agama sebagai objek pembahasan?
Dalam beberapa pelatihan yang kami lakukan, saya sering menemukan tipe penulis yang seperti itu. Sangat disayangkan, niat baik dan tujun mulianya kemudian tidak berhasil dikelola secara baik juga. Sehingga naskah-naskah yan ia tulis hanya disetujui oleh satu mazahab tertentu dalam agamanya, namun tidak oleh mezhab yang lain. Well … memang bukan pekerjaan mudah membuat tulisan yang diterima oleh semua golongan. Namun jika kamu tidak bisa memanage niat kamu menulis (untuk dakwah), maka kemungkinan kamu masuk dalam sempit aliran, adalah sangat besar.
Dalam banyak pelatihan sering saya tawarkan konsep ‘jalan tngah’. Konsep ini mengedepankan usnur-unsur toleransi dan empati tinggi kepada semua pihak dan semua kalangan pembaca. Sebab pada kenytaannya, seseorang itu lebih bersedia menerima ajakan keabikan yang memberinya ruang untuk memilih. Siapapun termasuk kamu, saya yakin, akan merasa berat utuk melakukan kebaikan yang tidak memberi ruang bagi kamu untuk tetepa memilih. Sebab bagaimana pun, setiap orang memiliki hak yang sama untuk mempertahankan keinginanyaa.
Bukankah begitu?
3. Tidak menyukai keadaan pasar
Bagian ini sudah terkait dengan urusan media (how to publish). Kamu akan lebih memahami sisi sebelah ini dalam subab ‘Paradok Klasik’ pada bab Medai dan Naskah di ujung buku ini. Nah, kasus Paradok Klasik itu akan menyerang kamu dengan bagitu akut, ketika kamu terlalu memaksakan diri dengan gaya ‘dakwah’ kamu yang keras dan terikat pada aliran tertentu. Sebab pada umunya, penerbit lebih menyukai zona aman untuk berbisnis. Mereka akan lebih cenderung untuk memilih naskah yang jauh lebih laku di pasaran, daripada naskah yang hanya dibeli oleh kelompok tertentu saja.
Well … memang ada beberapa penerbit yang menghususkan diri untuk menerbitkan buku-buku yang mengikat diri pada mazhab atau aliran tertentu. Namun jumlahnya terbatas. Itupun mereka lebih cenderung menerbitkan buku-buku terjemahan dari luar. Mereka lebih suka menerbitkan karya-karya imam atau pemimpin mazhab mereka yang berada di luar negeri sana.
Ini bukan perintah. Ini bukan paksaan. Saya hanya sebatas menganjurkan, dari relung terdalam hati saya, kepada kamu yang saya pandang sebagai para penulis muda penuh potensi dan bakat. Maka kembangkanlah bakat kamu secara jauh lebih baik dari sekedar ikut-ikutan dalam perselisihan antara kelompok dan golongan.
Percayalah, yang jauh lebih disukai masyarakat pada umumnya adalah naskah-naskah yang solitif, bukan bacaan yang saling menghujat dan mebuka aib kelompok lain. Yang dibutuhkan masyaratak adalah buku-buku yang isinya membuat hati tenang dan damai, bukan buku-buku yang kandunganya membuat hati resah dan jadi membenci kelopok lain.
Percayaah. Jangan sia-siakan potensi kamu. Jadilah penulis yang memberi solusi untuk orang lain. Jadilah penulis yang menebar semangat untuk semua orang. Jadilah penus yang menerangi tanpa menusuk. Dengan begitu … naskah-naskah spektakuler kamu akan jauh lebih mungkin untuk diterima penerbit dan tentunya diterima masyarakat sebagai pembaca.
4. Kurang bersahabat dengan keadaan sosial
Dalam keadan yang jauh lebih ‘parah’, tipe orang yang ‘terila-gila’ kepada mazhab atau aliran tertentu, akan banyak membuat langkah dan tindakan yang biasanya merugikan pihal lain di luar alirannya. Fenomena ini pastinya sudah banyak kamu saksikan dalam keadaan sekitar kamu. Banyak terjadi pengrusakan bahkan penyerangan oleh satu golongan kepada golongan lain, hanya karena perbedaan golongan.
Padahal seperti yang tadi saya singgung, tampaknya tidak ada agama di dunia ini yang tidak pecah menjadi lebih dari satu golongan. Itu memang watak manusia. Tidak usah diperselisihkan. Jika kamu cerdas dan benar-benar mendapat bimbingan dari Tuhan, kamu tentunya akan mampu melihat perbedaan sebagai bagian tak teprisah dari kekuasaan Tuhan itu sendiri.
Setuju?!
Nah … dalam dunia penulisan juga begitu.
Jika kamu sudah mendoktrin diri kemu seidiri dengan begitu tegas dan keras, kamu akan sangat sulit ‘bersahabat’ dengan kedaan sosial. Kamu akan menganggap orang-orang di sekeliling kamu yang berbeda aliran dengan kamu, adalah sekumpulan makhluk Tuhan yang sesat. Semua perasaan itu tentunya akan sangat memengaruhi tulisan-tulisan kamu. Karena sesungguhnya, isi buku adalah cerminan isi hati si penulisnya.
Seperti pada permasalahan sebelumnya, naskah-naskah kamu yang terlalu menghakimi orang lain, mudah memvonis sesat dan neraka kepada orang lain, merasa diri dan golongan sendiri adalah suci dan satu-satunya golongan yang disetujui Tuhan, naskah-nashak seperti itu akan sulit untuk menebus media, yang tentunya tidak akan bisa diterima oleh masyarakat sebagai pambaca.
Komentar
Posting Komentar