Masa Kecil Part I

Sedikit tentang masa kecilku
tak bisa terulang
tapi bisa tak bisa hilang
.....................................................................................
Empat tahun sudah aku bersekolah di SDN 07 ini. Begitu nyaman aku dengan suasana rindang disini. Kau tau? Ketika angin sedang berhembus kencangnya, maka pohon yang besar-besar disekitar gedung sekolahku itu akan menjatuhkan sebagian daunnya yang telah layu, persis seperti musim gugur di Negara-negara Eropa, sungguh keindahan yang tak tertandingi, dan kami –para murid-murid- hanya terpaku menyaksikan gugurnya daun-daun itu, beberapa diantara kami ada yang pura-pura menari menadahkan tangan sambil berputar dibawahnya, menikmati jatuhnya daun mengenai kepala dan pundak mereka.
Kemudian dikala hujan sekolah tua kami itu juga menunjukkan keindahan yang lain lagi. Genangan air di dekat pohon besar di sudut kanan belakang taman sekolah bergelombang perlahan. Kami biasanya berdiri melingkar di sekitar genangan, dan ketika kami menjatuhkan air ke tengahnya, genangan air itu akan menimbulkan riak-riak lingkaran yang berlapis, sangat indah saat hujan di sudut sekolah.
Seperti biasa Pak Juwardi, guru Kerajinan Tangan dan Kesenian (Kertakes) kami selalu sibuk setiap tahunnya. Ia selalu mengikutsertakan murid-murid untuk ikut dalam beberapa kompetisi kesenian tingkat wilayah kecamatan atau wilayah bagian Jakarta Utara. Tahun itu Pak Juwardi menyiapkan murid-murid kelas lima untuk tampil di kompetisi angklung kategori Sekolah Dasar tingkat Jakarta Utara.
Setiap hari rabu, ruangan kesenian menjadi ramai karena suara angklung dan ramainya para murid-murid yang menonton tim angklung sekolah kami yang sedang latihan. Begitupun aku yang sedari tadi melompat menjinjitkan kaki untuk melihat, aku sangat penasaran dengan suara-suara kayu berbenturan yang indah itu. Aku menyelinap diantara kerumunan murid yang rata-rata duduk di bangku kelas liam dan enam, hingga akhirnya aku berada di barisan paling depan para murid yang menonton. Kuperhatikan dengan seksama tangan-tangan tim angklung yang menggoyangkan alat musik itu bergantian, sungguh aku ingin diantara mereka. Aku ingin menjadi salah satu murid yang membawa nama sekolah pada kompetisi musik itu, ah tidak, sepertinya aku hanya ingin memainkan alat musik itu bersama mereka. Ya, aku sangat suka suaranya yang indah ketika digoyangkan bergiliran.
Tanpa sadar akulah satu-satunya murid kelas empat yang termenung serius menyaksikan latihan angklung itu. Sesaat kemudian Pak Juwardi terlihat berpikir sambil membaca barisan not balok dikertas yang dipegangnya. Ia pun menghentikan latihan angklung tersebut sembari berkata.
“Ehm..anak-anak, sepertinya harus ada satu orang lagi yang memegang nada ini,” ia menunjukan tangannya pada salah satu not di barisan nada di kertasnya, seolah anak-anak itu dapat mengerti not yang ia maksud.
Kemudian ia melihat kami, para penonton yang sedari tadi menyaksikan latihan itu. Entah hanya perasaanku saja atau entah bagaimana aku dapat membaca maksudnya melemparkan pandangannya pada kami, para murid yang menonton di tepi pintu ruang kesenian. Namun yang jelas saat itu aku langsung mengerti bahwa Pak Juwardi bermaksud memilih salah satu diantara penonton untuk masuk kedalam tim angklung kami. Spontan kerumunan menjadi ricuh karena anak-anak berebut menunjuk tangan ingin dipilih masuk ke dalam tim.
“Saya aja Pak” teriak salah satu murid.
“Saya Pak, saya mau Pak!!” begitu para murid saling berteriak ingin ditunjuk.
Sedangkan aku hanya diam, mataku tak berani menatap Pak Juwardi, aku lurus menatap angklung-angklung yang berjejer. Aku memasang wajah separuh ingin dipilih, separuh takut dipilih. Ingin dipilih karena memang itu yang kuidamkan, menjadi salah satu anggota tim angklong yang membawa nama baik sekolah. Takut dipilih karena sejujurnya aku tak yakin, apakah aku bisa memainkan alat musik bernama angklung itu. Aku takut mengecewakan para guru-guru di sekolah jika ternyata aku tak bisa memainkan angklung tersebut dengan baik.
Tetapi sekali lagi aku dapat membaca pandangan Pak Juwardi kepadaku, seorang anak murid yang berdiri di barisan paling depan kerumunan murid-murid yang menonton sambil memandang lurus para tim angklung dan tak memerdulikan Pak Juwardi yang sedari tadi menatapku. Seketika itu aku tau bahwa aku akan dipilih, Ya aku akan dipilih menjadi salah satu anggota.
“Kamu saja yah, kamu mau masuk tim angklung?” Pak Juwardi berbicara padaku.
Benar saja dugaanku, aku yang dipilihnya menjadi pelengkap nada tim angklung yang akan berkompetisi itu. Aku terkejut tak percaya, Pak Juwardi dapat membaca keinginanku untuk masuk kedalam tim, walaupun aku tak berucap sepatah katapun apalagi ikut berebut menunjuk tangan.
Aku memandang para murid yang sebagian besar adalah kakak-kakak kelasku yang berada disamping kanan kiriku, ada tatapan iri dan sinis sampai heran padaku.
Aku yang tak tau apa-apa, bahkan aku satu-satunya yang tak meminta ditunjuk saat Pak Juwardi mendekati kerumunan penonton. Tetapi mengapa aku yang dipilih, bahkan aku hanya seorang murid kelas empat, sedangkan tim angklung terdiri dari anak murid kelas lima dan enam.
Namun apa daya, aku tak bisa menolak. Bahkan, bukankah ini yang kuinginkan? Tidak salah kan kalau murid kelas empat sepertiku ikut masuk ke dalam tim angklung kelas lima dan enam? Maka aku tak ragu menjawab kebersediaanku menjadi salah satu anggota tim angklung dan membawa nama baik sekolah di kompetisi angklung tingkat Jakarta Utara itu.
Kemudian seketika aku mengikuti tahap demi tahap latihan angklung menuju kompetisi musik itu. Segala persiapan dilakukan, mulai dari menyiapkan kostum lomba yang berwarna hijau oren sampai latihan menghafal nada-nada yang akan kumainkan beserta giliranku memainkannya. Lagu yang akan kami bawakan adalah lagu Sirih Kuning yang dimainkan dengan nada satu, dua, dan tiga seperti paduan suara acapella yang bergantian.
Hingga tiba saat yang dinanti itu, kami sangat gugup dan itu sangat terlihat dari raut wajah kami yang berkeringat tanda pucat. Aku berusaha mengendalikan detak jantung dan nafasku yang terengah sejak tadi. Samapi dipanggilah giliran kami naik ke panggung sederhana itu. Panggung itu terbuat dari kayu, sehingga ketika kami berjalan maka akan terdengar bunyi kayu diketuk-ketuk.
Lalu semua berjalan lancar sesuai rencana, kami memainkan urutan nada-nada itu dengan baik. Hanya saja ketika kami melihat kelompok lain ada ketidakpercayaandiri hadir begitu saja, mereka lebih tegap badannya, lebih mewah kostumnya, dan lengkap macam angklungnya. Sedangkan kami, tubuh kami tidak tegap karena kami tak pernah diajari mendongak, kostum akmi tidak mewah karena kostum kami itu sudah turun temurun beberapa tahun, angklung kami juga tidak lengkap nada-nadanya karena tentulah masalah biaya.
Namun kami tetap bangga akan apa yang sudah kami lewati. Walaupun akhirnya kami tahu bahwa kami tak dapat memenangkan kompetisi angklung itu, tapi kami tetap bahagia karena lembaran hidup kami telah tergores pengalaman yang indah seperti yang sudah kami lakukan, mengikuti kompetisi bermain angklung (ya, apapun hasilnya).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

bantulah..Allah kan membantumu :)