Masa Kecil Part II
Ketika aku menduduki bangku tahun kelima sekolah dasar, aku mempunyai guru favorit sepanjang masa. Namanya Pak Nur. Sikapnya yang begitu bijak dan sabar mengajari kami banyak pelajaran itu memang guru idola banyak murid. Posturnya agak kurus, cukup tinggi, dan berkulit putih, sangat khas diantara guru-guru lainnya. Ia selalu penuh senyum dan menyapa murid-murid dengan hangat tegurannya. Begitulah Pak Nur bertemu kami hampir setiap pekan belajar di sekolah.
Suatu saat aku mendengar akan ada perlombaan melukis untuk tingkat kelas enam sewilayah kecamatan. Sebenarnya aku ingin ikut, namun seperti biasa aku selalu minder jika harus mendaftar perlombaan melukis itu, yah alasannya tentu saja perlombaan tersebut bukan untuk siswa kelas lima sepertiku. Maka kuanggap angin lalu saja kabar yang kudengar sambil berkata kepada diri sendiri,
”Jangan terlalu berharap laahh..”
Hingga suatu hari pernyataan hatiku tersebut harus kutelan lagi. Hari itu aku sedang menikmati jam istirahat bersama teman-temanku. Kami hanya menghabiskan jam istirahat itu dengan berbincang-bincang sembari jajan di kanti sekolah. Lalu ketika kami memutuskan kembali ke kelas sebelum jam masuk kembali berbunyi, aku melihat Pak Nur sedang berbicara dengan Pak Jamal.
Hmmm..sebenarnya aku selalu bergidik ketika menyebut nama itu, Pak Jamal, guru kelas enam sekolah kami. Saat itu aku sudah mengikuti les tambahan darinya hingga aku tau persis bagaimana seramnya beliau saat mengajar (hehe peace pak..!). Terkadang Pak Jamal menghentakan penggaris kayu besar ke papan tulis hingga nyaring hentakannya membuat kami terbisu dan pucat. Kadang beliau menjewer murid yang tak bisa mengerjakan soal matematika yang dianggapnya cukup mudah.
Akupun sekarang masih ingat ketika aku tiba-tiba ditunjuk mengerjakan suatu soal matematika dan harus cepat selesai dalam waktu singkat, aku masih ingat betul raut wajahku yang pasi dan tanganku yang gemetar saat maju ke depan kelas. Saat itu aku memakai setelan kaus dan celana coklat. Ya, mana bisa aku melupakan kejadian itu. Namun beruntungnya aku saat itu karena bisa mengerjakan soal yang diberi Pak Jamal, kalau tidak maka...entahlah aku tak berani membayangkannya. Pak Jamal memang satu-satunya yang dicap killer di sekolah kami, tetapi aku tau pasti tujuannya baik. Beliau ingin anak-anak muridnya giat belajar dan menjadi cerdas nantinya, ya..kami mengerti itu Pak, sungguh.
Dan kini ia didepan pintu kelas limaku. Ada apa gerangan, aku bertanya dalam hati. Nyatanya sempat terdengar olehku bahwa Pak Jamal tidak menemukan perwakilan murid kelas enam yang sesuai kriterianya untuk ikut dalam perlombaan melukis tingkat kecamatan itu. Perasaanku mulai buruk seketika, lagi-lagi aku bisa membaca tatapan Pak Nur saat melihataku dan teman-temanku berjalan mendekat sembari ragu menghampiri pintu kelas.
Benar saja dugaanku, Pak Nur lantas berkata,
”Bagaimana kalau Aisyah saja pak..?” telunjuknya mengarah padaku, ya jelas kulihat itu.
Pak Nur melanjutkan ”gambar-gambarnya selalu dinilai bagus di pelajaran Kertakes”
Serentak aku berhenti dan spontan bertanya dengan ekpresi pura-pura tidak mengerti,
”Hah..kenapa saya Pak??”
Ah percuma saja bertanya begitu, karena sejurus kemudian Pak Jamal menatapku dan berkata, ”Oh bagus Pak kalau begitu. Jadi Aisyah saja yang mewakili sekolah kita di perlombaan melukis sabtu nanti”
Aku terkejut untuk kedua kalinya saat itu. Sabtu, pekan ini??? Oh siapakah yang dapat menolongku dalam situasi ini. Tidakkah terlalu cepat dan..otoriter. Menyuruhku mewakili sekolah dan persiapanku hanya beberapa hari. Sesaat aku sadar bahwa tak ada yang bisa membantuku keluar dari situasi mengejutkan itu dan sesungguhnya aku tak bisa menolaknya karena jika boleh jujur dalam hatiku ini sangat gembira dan mungkin bangga. Aku, ya aku siswi kelas lima ini akan berjuang mewakili sekolah dan bersaing melawan tingkat kelas enam sekecamatan. Membanggakan bukan?
Hari sabtu yang menegangkan itu datang. Perlombaan diadakan disekolahku, kalau dalam istilah pertandingan keolahragaan maka aku akan bermain di kandang, yaitu sekolahku sendiri. Beberapa hari sebelumnya aku tlah melakukan latihan semampuku, aku persiapkan juga amunisi melukisku. Pensil, hapusan, penggaris, dan pensil warna tentunya. Saat peserta lomba lainnya tiba di sekolahku entah mengapa perasaanku biasa saja, tidak gugup atau gelisah. Mungkin karena aku merasa cukup dengan persiapanku saat itu.
Perlombaanpun dimulai, aku dapat tempat duduk di belakang. Aku melihat kanan dan kiri, peralatan melukis mereka berbeda-beda, ada yang lengkap dengan crayon berkualitas, ada juga yang seadanya sepertiku. Aku melukis semampuku. Kugoreskan pensil warna senyumku seperti yang kulihat saat aku memenangkan lomba mewarnai di Taman Kanak-kanak dahulu. Yap, alhasil aku lolos tahap pertama. Segera kuberikan kabar gembira kepada kedua orangtuaku. Akupun melihat senyum itu lagi. Senyum kebanggan itu lagi. Ada desir bahagia dalam hatiku, mereka bahagia karenaku. Maka aku berlanjut ke tahap berikutnya. Tahap kedua ini rasanya cukup berbeda. Pesertanya lebih sedikit dan tingkatannya semakin tinggi. Ah, aku tak peduli. Yang aku inginkan terus melukis warna hidupku di kertas A3 kosong itu, apapun hasilnya yang jelas aku telah membuat orangtuaku tau bahwa aku telah berusaha mengembangkan selalu seyum mereka, walaupun dengan hal-hal kecil seperti yang kulakukan itu.
Pengumuman tahap kedua sudah datang. Ada sedikit kecewa ketika kutahu aku tak masuk seleksi berikutnya. Ya, aku kalah di tahap kedua. Tapi segera kuhapus kecewaku itu dan memberitahukan kabar buruk itu dengan cara sebaik-baiknya kepada orangtuaku. Mereka bekata ”Nggak apa-apa” dan itu sudah cukup membuatku tenang. Ada ikrar tersembunyi tanpa sepengtahuan mereka, aku keinginan mengikuti perlombaan-perlombaan berikutnya nanti, agar senyum itu dapat aku lihat selalu. Jika tidak prestasi belajarku yang biasa-biasa saja itu maka hanya cara lain itu yang kutau, hanya dengan perlombaan itu aku dapat melukis senyum bangga di wajah mereka. Aku tau mereka telah melihat usahaku, ya aku tau bahwa mereka tau..aku sungguh menyayangi dan menghormati mereka, orangtua dan juga kakak-kakakku.
Suatu saat aku mendengar akan ada perlombaan melukis untuk tingkat kelas enam sewilayah kecamatan. Sebenarnya aku ingin ikut, namun seperti biasa aku selalu minder jika harus mendaftar perlombaan melukis itu, yah alasannya tentu saja perlombaan tersebut bukan untuk siswa kelas lima sepertiku. Maka kuanggap angin lalu saja kabar yang kudengar sambil berkata kepada diri sendiri,
”Jangan terlalu berharap laahh..”
Hingga suatu hari pernyataan hatiku tersebut harus kutelan lagi. Hari itu aku sedang menikmati jam istirahat bersama teman-temanku. Kami hanya menghabiskan jam istirahat itu dengan berbincang-bincang sembari jajan di kanti sekolah. Lalu ketika kami memutuskan kembali ke kelas sebelum jam masuk kembali berbunyi, aku melihat Pak Nur sedang berbicara dengan Pak Jamal.
Hmmm..sebenarnya aku selalu bergidik ketika menyebut nama itu, Pak Jamal, guru kelas enam sekolah kami. Saat itu aku sudah mengikuti les tambahan darinya hingga aku tau persis bagaimana seramnya beliau saat mengajar (hehe peace pak..!). Terkadang Pak Jamal menghentakan penggaris kayu besar ke papan tulis hingga nyaring hentakannya membuat kami terbisu dan pucat. Kadang beliau menjewer murid yang tak bisa mengerjakan soal matematika yang dianggapnya cukup mudah.
Akupun sekarang masih ingat ketika aku tiba-tiba ditunjuk mengerjakan suatu soal matematika dan harus cepat selesai dalam waktu singkat, aku masih ingat betul raut wajahku yang pasi dan tanganku yang gemetar saat maju ke depan kelas. Saat itu aku memakai setelan kaus dan celana coklat. Ya, mana bisa aku melupakan kejadian itu. Namun beruntungnya aku saat itu karena bisa mengerjakan soal yang diberi Pak Jamal, kalau tidak maka...entahlah aku tak berani membayangkannya. Pak Jamal memang satu-satunya yang dicap killer di sekolah kami, tetapi aku tau pasti tujuannya baik. Beliau ingin anak-anak muridnya giat belajar dan menjadi cerdas nantinya, ya..kami mengerti itu Pak, sungguh.
Dan kini ia didepan pintu kelas limaku. Ada apa gerangan, aku bertanya dalam hati. Nyatanya sempat terdengar olehku bahwa Pak Jamal tidak menemukan perwakilan murid kelas enam yang sesuai kriterianya untuk ikut dalam perlombaan melukis tingkat kecamatan itu. Perasaanku mulai buruk seketika, lagi-lagi aku bisa membaca tatapan Pak Nur saat melihataku dan teman-temanku berjalan mendekat sembari ragu menghampiri pintu kelas.
Benar saja dugaanku, Pak Nur lantas berkata,
”Bagaimana kalau Aisyah saja pak..?” telunjuknya mengarah padaku, ya jelas kulihat itu.
Pak Nur melanjutkan ”gambar-gambarnya selalu dinilai bagus di pelajaran Kertakes”
Serentak aku berhenti dan spontan bertanya dengan ekpresi pura-pura tidak mengerti,
”Hah..kenapa saya Pak??”
Ah percuma saja bertanya begitu, karena sejurus kemudian Pak Jamal menatapku dan berkata, ”Oh bagus Pak kalau begitu. Jadi Aisyah saja yang mewakili sekolah kita di perlombaan melukis sabtu nanti”
Aku terkejut untuk kedua kalinya saat itu. Sabtu, pekan ini??? Oh siapakah yang dapat menolongku dalam situasi ini. Tidakkah terlalu cepat dan..otoriter. Menyuruhku mewakili sekolah dan persiapanku hanya beberapa hari. Sesaat aku sadar bahwa tak ada yang bisa membantuku keluar dari situasi mengejutkan itu dan sesungguhnya aku tak bisa menolaknya karena jika boleh jujur dalam hatiku ini sangat gembira dan mungkin bangga. Aku, ya aku siswi kelas lima ini akan berjuang mewakili sekolah dan bersaing melawan tingkat kelas enam sekecamatan. Membanggakan bukan?
Hari sabtu yang menegangkan itu datang. Perlombaan diadakan disekolahku, kalau dalam istilah pertandingan keolahragaan maka aku akan bermain di kandang, yaitu sekolahku sendiri. Beberapa hari sebelumnya aku tlah melakukan latihan semampuku, aku persiapkan juga amunisi melukisku. Pensil, hapusan, penggaris, dan pensil warna tentunya. Saat peserta lomba lainnya tiba di sekolahku entah mengapa perasaanku biasa saja, tidak gugup atau gelisah. Mungkin karena aku merasa cukup dengan persiapanku saat itu.
Perlombaanpun dimulai, aku dapat tempat duduk di belakang. Aku melihat kanan dan kiri, peralatan melukis mereka berbeda-beda, ada yang lengkap dengan crayon berkualitas, ada juga yang seadanya sepertiku. Aku melukis semampuku. Kugoreskan pensil warna senyumku seperti yang kulihat saat aku memenangkan lomba mewarnai di Taman Kanak-kanak dahulu. Yap, alhasil aku lolos tahap pertama. Segera kuberikan kabar gembira kepada kedua orangtuaku. Akupun melihat senyum itu lagi. Senyum kebanggan itu lagi. Ada desir bahagia dalam hatiku, mereka bahagia karenaku. Maka aku berlanjut ke tahap berikutnya. Tahap kedua ini rasanya cukup berbeda. Pesertanya lebih sedikit dan tingkatannya semakin tinggi. Ah, aku tak peduli. Yang aku inginkan terus melukis warna hidupku di kertas A3 kosong itu, apapun hasilnya yang jelas aku telah membuat orangtuaku tau bahwa aku telah berusaha mengembangkan selalu seyum mereka, walaupun dengan hal-hal kecil seperti yang kulakukan itu.
Pengumuman tahap kedua sudah datang. Ada sedikit kecewa ketika kutahu aku tak masuk seleksi berikutnya. Ya, aku kalah di tahap kedua. Tapi segera kuhapus kecewaku itu dan memberitahukan kabar buruk itu dengan cara sebaik-baiknya kepada orangtuaku. Mereka bekata ”Nggak apa-apa” dan itu sudah cukup membuatku tenang. Ada ikrar tersembunyi tanpa sepengtahuan mereka, aku keinginan mengikuti perlombaan-perlombaan berikutnya nanti, agar senyum itu dapat aku lihat selalu. Jika tidak prestasi belajarku yang biasa-biasa saja itu maka hanya cara lain itu yang kutau, hanya dengan perlombaan itu aku dapat melukis senyum bangga di wajah mereka. Aku tau mereka telah melihat usahaku, ya aku tau bahwa mereka tau..aku sungguh menyayangi dan menghormati mereka, orangtua dan juga kakak-kakakku.
Komentar
Posting Komentar