TEKNIK DASAR PENCAHAYAAN FOTOGRAFI

1. Diagframa dan Rana
Pengaturan cahaya dapat dilakukan dengan mengontrol bukaan diagframa dan kecepatan rana. Besarnya bukaan diagframa menentukan jumlah cahaya yang diteruskan ke film, sedangkan kecepatan rana menentukan lamanya waktu yang diperlukan untuk mencahayai film. Berbagai kombinasi dari bukaan dan kecepatan rana memberikan pencahayaan yang sama, misalnya pengukur cahaya kamera menunjukkan kombinasi 1/125 detik, f/8. Jika mengubah bukaan diagframa satu stop lebih kecil menjadi f/11 maka kuantitas cahaya yang masuk ke kamera akan berkurang setengah kali. Agar memperoleh nilai pencahayaan yang sama harus diimbangi dengan menggunakan kecepatan rana lebih lambat satu stop, yaitu 1/60 detik. Sebaliknya, jika bukaan diagframa diperbesar satu stop menjadi f/5,6 maka kecepatan rana harus dipercepat menjadi 1/250 detik.

2. Over dan Under
Seorang fotografer pasti akrab dengan kata kontras. Secara umum, kontras diartikan sebagai perbedaan gradasi antara area yang gelap (shadow) dengan area yang terang (highlight) pada objek. Perbedaan gradasi ini sering diungkapkan, seperti kurang kontras (kontras rendah), terlalu kontras (kontras tinggi), atau kontras bagus (kontras ideal).
Sebuah foto dikatakan berhasil secara pencahayaan (normal eksposur) jika semua warna yang muncul mempunyai nada yang sama dengan yang diharapkan. Kondisi ini terjadi jika adanya kombinasi pencahayaan yang tepat antara kecepatan rana dan diagframa.
Sebuah foto dikatakan over exposed (biasa disingkat over/kelebihan), jika bagian shadow density menerima cahaya yang berlebihan. Peristiwa ini terjadi akibat kurang tepatnya pilihan diagframa atau kecepatan rana. Hasilnya, foto cenderung memiliki kekontrasan yang kurang baik.
Sebuah foto dikatakan under exposed (biasa disingkat under/kekurangan), jika bagian shadow density menerima cahaya yang kurang untuk menampilkan detil gambar.Hasilnya, foto cenderung lebih gelap.
Untuk memperoleh pencahayaan yang baik, fotografer dapat berpedoman pada ligth meter yang terdapat pada kamera atau pengukur cahaya genggam (handheld light meter). Pada kamera modern, pencahayaan dapat diukur langsung oleh kamera secara otomatis. Posisi light meter pada kamera terdapat di dalam jendela bidik, berupa jarum atau tanda lampu (led) yang akan menyala. tanda lampu tersebut berupa:

tanda ( + ), artinya pencahayaan berlebihan
tanda ( o ), artinya pencahayaan cukup
tanda ( - ), artinya pencahayaan kurang

Jika indikator light meter pada kamera menunjukan pencahayaan yang berlebih, pemotret harus mengubah bukaan diagframa menjadi lebih kecil atau menggunakan kecepatan rana yang lebih cepat. Sebaliknya, jika indikator light meter pada kamera menunjukkan pencahayaan kurang, pemotret harus mengubah bukaan diagframa menjadi lebih besar atau menggunakan kecepatan rana yang lebih lambat.



3. Kompensasi pencahayaan
Kompensasi pencahayaan dilakukan dengan menambah atau mengurangi pencahayaan yang dihasilkan oleh pengukur cahaya agar diperoleh pencahayaan yang tepat. Hasil pengukur cahaya di kamera akan memberikan kombinasi pencahayaan yang tepat sekitar 90%. Jika kondisi ini digunakan untuk memotret objek khusus (misalnya objek dengan latar belakang langit putih atau menentang cahaya), kamera akan memberikan memberikan pencahayaan salah. Hal ini disebabkan pengukur cahaya diprogram untuk memberikan hasil yang tepat jika digunakan memotret objek yang mempunyai daya pantul cahaya 18% (nada kelabu tengah).

4. Braketing
Braketing adalah suatu teknik yang memberikan kombinasi pencahayaan yang berbeda-beda pada satu objek, selain pencahayaan normal. Sebagai contoh, seorang fotografer memperoleh kombinasi pencahayaan 1/125 detik dengan diafragma f/22. Selain menggunakan kombinasi tersebut, dibuat kombinasi pencahayaan lain, misalnya 1/250 detik, f/22 atau 1/125 detik, f/16. Dengan membuat berbagai kombinasi pencahayaan ini, akan diperoleh hasil foto dengan pencahayaan yang tepat. Braket dapat dilakukan ke "dua arah", dengan menambah atau mengurangi pencahayaan normal. Pada kamera digital, braket dapat dilakukan dengan mengatur selector kompensasi pencahayaan, selector ISO, atau tombol braket otomatis pada kamera terbaru yang canggih. Kenutuhan cahaya pada sebuah pemotretan tergantung pada beberapa hal. Pertama, ISO yang digunakan. Makin tinggi ISO yang digunakan makin sedikit cahaya yang dibutuhkan. Kedua, suasana ditempat pemotretan. Terang-gelapnya tempat pemotretan akan membedakan jumlah cahaya yang tersedia. Jangan percaya pada mata manusia untuk mengukur tingkat pencahayaan. Mata manusia mudah tertipu karena selalu membutuhkan penyesuaian. Sebuah tempat akan terasa sangat bagi orang yang datang dari tempat gelap. Sebaliknya, akan terasa tidak terang bagi orang yang datang dari tempat yang lebih terang.



5. Ruang Tajam
Ruang Tajam (depth of field) adalah sebuah ruang di depan kamera. Objek yang berada di dalamnya mempunyai ketajaman yang layak pada foto yang terekam. Faktor-faktor penting yang mempengaruhi panjang ruang tajam adalah bukaan diafragma dan panjang fokus lensanya. Selain itu, panjangnya ruang tajam dipengaruhi pula oleh jarak antara objek dengan kameranya. Makin jauh objek, makin panjang ruang tajamnya. Lensa yang difokuskan ke tempat yang tidak terhingga, mempunyai ruang tajam yang tidak terhingga pula. Namun pada pemotretan yang sangat dekat (misalnya pemotretan mikro), ruang tajamnya hanya beberapa milimeter.
Makin besar angka diafragma (bukaan makin kecil), makin lebar ruang tajam yang akan diperoleh. Sebaliknya, makin kecil angka diafragma (bukaan makin besar), makin sempit ruang tajamnya. Makin panjang fokus lensa, makin sempit ruang tajam yang akan diperoleh. Sebaliknya, makin pendek fokus lensa, makin lebar ruang tajamnya. Makin dekat jarak pemotretan, makin sempit ruang tajam yang akan diperoleh. Sebaliknya, makin jauh jarak pemotretan, makin lebar ruang tajamnya.

6. Memilih Bukaan Diafragma
Pertnyaan yang sering muncul adalah bukaan diafragma berapa yang sebaiknya dipakai untuk kebutuhan tertentu? Pertanyaan ini tidak dapat dijawab dengan mudah karena perubahan diafragma berpengaruh pada perubahan kecepatan rana dan ruang tajam. Bukaan diafragma kecil dapat dipilih untuk memperoleh ruang tajam yang besar, pada kondisi cahaya yang cukup terang dan kecepatan rana yang tinggi. Sebaliknya, bukaan diafragma besar dapat dipilih untuk memperoleh ruang tajam yang sempit, pada kondisi cahaya yang kurang terang dan kecepatan rana yang rendah. Pemilihan bukaan diafragma dapat dilakukan dengan mempertimbangkan kepekaan ISO dan untuk apa foto itu diambil. Contohnya, foto pemandangan dengan dengan tujuan untuk menonjolkan terekamnya semua objek dengan jelas memerlukan ruang tajam yang besar. Lain halnya jika fotografer ingin menonjolkan objek dengan latar belakang yang kabur, diperlukan ruang tajam yang sempit.

7. Memilih Kecepatan Rana
Memilih kecepatan rana adalah suatu langkah yang harus dilakukan saat memotret. Kecepatan rana dibagi tiga, yaitu: kecepatan tinggi, kecepatan lambat, dan kecepatan sangat lambat (pilihan bukaan B atau Bulb). Kecepatan sangat lambat digunakan untuk memotret objek yang waktunya dapat ditentukan oleh pemotret. Cara ini dapat dipilih jika pemotret ingin memperoleh gambar suasana malam hari tanpa lampu kilat. Batasan antara kecepatan lambat dan kecepatan tinggi tidak mutlak. Batasan untuk kecepatan sedang, yaitu kecepatan 1/60 sampai 1/250 detik. Kecepatan rana dibawah angka tersebut dianggap lambat, sedangkan diatasnya bisa dianggap cepat. Kecepatan lambat dan tinggi memiliki fungsi dan kegunaan yang berbeda. Kecepatan lambat akan memberikan kesan gerak pada beberapa bagian gambar. Kesan yang timbul dari gambar tersebut adalah suasana dinamis yang memberikan warna tersendiri. Umumnya, kecepatan tinggi dipakai untuk menghindari kesan gerak sama sekali atau istilah populernya dikenal dengan pembekuan gerakan. Biasanya pembekuan gerakan dilakukan untuk memotret adegan-adegan bergerak, seperti peristiwa olahraga. Untuk pemotretan dengan kecepatan tinggi sebaiknya gunakan ISO tinggi. Paling tidak ISO 400 atau gunakan kamera yang memiliki lensa dengan bukaan besar, misalnya f/2,8.

8. Memotret dengan Lampu Kilat
Lampu kilat dapat membantu fotografer untuk mendapatkan cahaya yang diinginkan agar hasil foto tetap berkualitas. Memotret dengan bantuan lampu kilat berhubungan dengan jarak. Maksudnya adalah kekuatan pancaran lampu kilat akan semakin melemah seiring dengan bertambahnya jarak pemotretan. Hal ini berhubungan dengan pemilihan diafragma yang harus dipakai.

Setiap lampu kilat selalu disertai dengan kekuatan daya pancar yang dimilikinya. Kekutan lampu kilat dijelaskan dalam suatu pedoman yang disebut guide number (GN). Makin kuat suatu lampu kilat, makin besar GN-nya. GN selalu tertulis dalam dua satuan, misalnya 36/ISO-100. Satuan didepan menunjukkan jarak, meter, atau feet, sedangkan satuan dibelakang menunjukkan ISO. Biasanya, pabrik lampu kilat selalu memberikan keterangan ISO dan satuan panjang pada GN yang tertera. Dengan cara ini pemotret dapat menghindari kesalahan dalam memilih satuan keterangan ISO-nya.

by: komunitas fotografi jakarta

Komentar

Postingan populer dari blog ini

bantulah..Allah kan membantumu :)