Teguran Hujan


Saat mata hendak terkatup, namun barisan kata tlah menunggu makna
Aku hanyalah pengagum kesendirian, bersama perenunganku tentang semenjak hari tadi
Pikiranku entah melalang kemana saat kulakukan kesibukan-kesibukan itu
Waktu terus bergulir, tangan dan kaki bekerja, namun hatiku bisu
Tercekat aku dalam kegamangan jiwa
Perlahan aku berdoa, “aku tak mau begini”
Bagaimana pertanggungjawabanku terhadap tangan dan kakiku nanti
Mereka sibuk tanpa perintah penuh dariku
Sungguh ini mengganggu
Hey hujan, kau datang seolah menghukumku, kau siram aku sekenanya
Aku mendengar hujan berkata dalam setiap rintih tetesnya
“Sadarlah wahai jiwa yang tak tentu
Kau tertipu oleh manis dunia, indah rasa, tunduk jiwa
Janganlah begitu, sungguh menggangu nurani yang ingin total dalam amanah
Cukupkanlah tentang kebimbanganmu saat ini
Cukupkan dirimu dengan ridho Allah, carilah ridhoNya dan lanjutkan kesibukanmu”
Ya, dan aku cukup tersadarkan oleh basahnya teguran hujan
Sadarlah, jangan terlena, jangan terpaku, jangan terpana
Fokus, fokus, fokus

Komentar

Postingan populer dari blog ini

bantulah..Allah kan membantumu :)