Color of Paradise.....tentang pengkhayal warna dunia
Dunia itu seperti apa? Is it just full black like this?
Apa yang dipikirkan mereka, para penikmat kegelapan warna dunia
Mereka terpejam atau dengan mata terbuka, tetap saja hamparan hitam di hadapannya
Setiap hari meraba-raba apa saja yang kan dilaluinya
Terkadang tongkat menjadi sahabatnya, bagi kita mungkin hanya tongkat biasa
Tapi bagi mereka sungguh berharga, lebih berharga dari teknologi secanggih apapun yang kau punya
Ya mereka tetap seperti itu, tenggelam dalam harapan sirna atau lelah meminta
Andai mereka mengerti bahwa Allah tlah menjadikan contoh sejati hamba yang bersyukur
Sebagai pengingat bahwa manusia itu kecil di hadapan hambaNya, harus menaati apa yang dipinta Tuhannya, menjauhi apa yang dilarangNya
Termasuk menggunakan mata di area zina penglihatan, itu jelas dilarangNya
Jika sudah kemilau akan ‘indah’ dunia menurutnya, maka lupalah bahwa tugas manusia salah satunya menjaga fungsi mata untuk melihat yang baik-baik saja
Ah manusia, selalu saja ada ulahmu, mengecewakan Dia yang selalu menyayangimu, just like me
Betapa tak pantas semua kesombongan
Bahkan jendela duniamu jarang sekali kau syukuri
Padahal bagi mereka –peraba dunia, penikmat warna hitam di hamparan matanya, pengagum menghayal isi dunia- ya bagi mereka warna dunia adalah surga sebelum surga

Hai manusia, lihatlah mereka
Demi mengenal dunia tak henti mereka berusaha
Menggunakan apa saja sebagai pengganti ketidaksempurnaan penglihatan mereka
Jemari meraba kata, demi membaca apa yang mudah bagi kita
Tangan mengibas kosong, demi mengenal benda apa yang mengancam berikutnya
Hidung yang mengendus ditajamkan, memahami bau-bauan yang akrab dan bersahabat, yang dikenal sehari-hari, mencari tahu bau setiap benda dan mengingatnya dalam-dalam
Ya setiap harinya, as always
Maka indah warna-warni dunia patut disyukuri bagi manusia yang melihatnya
Bahkan Ia memerintahkan kita mengucap :Masya Allah La haula wa la quwwata illa billah” sebagai tanda bersyukur sekaligus memuja akan hamparan indah di mata manusia
Memuja pelukis teragung seluruh jagat
Begitu indah apa saja yang dilukisnya jika kau mampu melihatnya secara bijaksana
Namun ini tetap mustahil bagi mereka, para pengagum penikmat warna gelap dunia
Kadang mereka letih meminta
Kadang ingin aku memeluk mereka, mengeja apa saja yang kulihat dan betapa indah hamparan dunia
Ingin ku bagi indah lukisanNya jika aku bisa
Ingin kuraih tangannya, mengajak menulusuri jejak yang mereka lalui
Bahwa yang baru saja kau lewati seperti ini dan seperti itu
Tapi mereka bergeming terdiam, tersenyum dan seolah tak butuh aku
Sebaris senyumnya mengatakan, bahwa ini sudah biasa bagiku, ini deritaku, tak perlu kau susah-susah membantuku, nikmati saja duniamu, aku terbiasa seperti ini, menghayalkan isi dunia yang selalu hitam di mataku, bertanya-tanya benarkah pelangi itu indah, karna yang ku dengar pelangi itu muncul setelah hujan yang tersiram cahaya matahari kemudian membiaskan garis-garis warna di langit bernama pelangi, namun aku hanya bisa merasakan hujannya serta panas mataharinya, jika aku adalah hujan mungkin aku akan sangat mencintai matahari karna bersamanya kan tercipta pelangi, ah tapi aku hanya bisa menghayal sekali lagi, dan tak perlu kau susah-susah membantuku menghayalkannya, memiliki otak tuk menghayal saja sudah sangat aku syukuri, sedangkan kau urus saja rasa syukurmu padaNya, syukuri penglihatan yang kau punya, yang nikmatnya sering kau lupa..
Seketika aku tergetar, membayangkan tatapan kosongnya berarti seperti itu padaku
Astaghfirullah
Hamba ini benar-benar sering lupa bersukur
Bahwa hamparan warnaMu juga nikmat yang luar biasa
Memiliki penglihatan sempurna ini juga karunia yang tak hingga, bahkan rasa syukurku mungkin takkan pernah cukup
Terimakasih hai seorang buta
Kau mengingatkanku tuk bersyukur
Kelak kau melihat indah dunia ‘disana’ jika kau mampu mencari hidayah penuntunmu menujuNya
Terimakasih tlah mengingatkanku
Ya..sungguh aku berterimakasih
Apa yang dipikirkan mereka, para penikmat kegelapan warna dunia
Mereka terpejam atau dengan mata terbuka, tetap saja hamparan hitam di hadapannya
Setiap hari meraba-raba apa saja yang kan dilaluinya
Terkadang tongkat menjadi sahabatnya, bagi kita mungkin hanya tongkat biasa
Tapi bagi mereka sungguh berharga, lebih berharga dari teknologi secanggih apapun yang kau punya
Ya mereka tetap seperti itu, tenggelam dalam harapan sirna atau lelah meminta
Andai mereka mengerti bahwa Allah tlah menjadikan contoh sejati hamba yang bersyukur
Sebagai pengingat bahwa manusia itu kecil di hadapan hambaNya, harus menaati apa yang dipinta Tuhannya, menjauhi apa yang dilarangNya
Termasuk menggunakan mata di area zina penglihatan, itu jelas dilarangNya
Jika sudah kemilau akan ‘indah’ dunia menurutnya, maka lupalah bahwa tugas manusia salah satunya menjaga fungsi mata untuk melihat yang baik-baik saja
Ah manusia, selalu saja ada ulahmu, mengecewakan Dia yang selalu menyayangimu, just like me
Betapa tak pantas semua kesombongan
Bahkan jendela duniamu jarang sekali kau syukuri
Padahal bagi mereka –peraba dunia, penikmat warna hitam di hamparan matanya, pengagum menghayal isi dunia- ya bagi mereka warna dunia adalah surga sebelum surga

Hai manusia, lihatlah mereka
Demi mengenal dunia tak henti mereka berusaha
Menggunakan apa saja sebagai pengganti ketidaksempurnaan penglihatan mereka
Jemari meraba kata, demi membaca apa yang mudah bagi kita
Tangan mengibas kosong, demi mengenal benda apa yang mengancam berikutnya
Hidung yang mengendus ditajamkan, memahami bau-bauan yang akrab dan bersahabat, yang dikenal sehari-hari, mencari tahu bau setiap benda dan mengingatnya dalam-dalam
Ya setiap harinya, as always
Maka indah warna-warni dunia patut disyukuri bagi manusia yang melihatnya
Bahkan Ia memerintahkan kita mengucap :Masya Allah La haula wa la quwwata illa billah” sebagai tanda bersyukur sekaligus memuja akan hamparan indah di mata manusia
Memuja pelukis teragung seluruh jagat
Begitu indah apa saja yang dilukisnya jika kau mampu melihatnya secara bijaksana
Namun ini tetap mustahil bagi mereka, para pengagum penikmat warna gelap dunia
Kadang mereka letih meminta
Kadang ingin aku memeluk mereka, mengeja apa saja yang kulihat dan betapa indah hamparan dunia
Ingin ku bagi indah lukisanNya jika aku bisa
Ingin kuraih tangannya, mengajak menulusuri jejak yang mereka lalui
Bahwa yang baru saja kau lewati seperti ini dan seperti itu
Tapi mereka bergeming terdiam, tersenyum dan seolah tak butuh aku
Sebaris senyumnya mengatakan, bahwa ini sudah biasa bagiku, ini deritaku, tak perlu kau susah-susah membantuku, nikmati saja duniamu, aku terbiasa seperti ini, menghayalkan isi dunia yang selalu hitam di mataku, bertanya-tanya benarkah pelangi itu indah, karna yang ku dengar pelangi itu muncul setelah hujan yang tersiram cahaya matahari kemudian membiaskan garis-garis warna di langit bernama pelangi, namun aku hanya bisa merasakan hujannya serta panas mataharinya, jika aku adalah hujan mungkin aku akan sangat mencintai matahari karna bersamanya kan tercipta pelangi, ah tapi aku hanya bisa menghayal sekali lagi, dan tak perlu kau susah-susah membantuku menghayalkannya, memiliki otak tuk menghayal saja sudah sangat aku syukuri, sedangkan kau urus saja rasa syukurmu padaNya, syukuri penglihatan yang kau punya, yang nikmatnya sering kau lupa..
Seketika aku tergetar, membayangkan tatapan kosongnya berarti seperti itu padaku
Astaghfirullah
Hamba ini benar-benar sering lupa bersukur
Bahwa hamparan warnaMu juga nikmat yang luar biasa
Memiliki penglihatan sempurna ini juga karunia yang tak hingga, bahkan rasa syukurku mungkin takkan pernah cukup
Terimakasih hai seorang buta
Kau mengingatkanku tuk bersyukur
Kelak kau melihat indah dunia ‘disana’ jika kau mampu mencari hidayah penuntunmu menujuNya
Terimakasih tlah mengingatkanku
Ya..sungguh aku berterimakasih
Komentar
Posting Komentar