Masa Remaja Part 1
Seragam baru. Lagi. Kali ini rok, dasi, dan topiku tidak lagi berwarna merah, tapi biru. Dengan Nilai Evaluasi Murid (NEM) 38,5 yang kudapat dari Ujian Akhir Nasional kelas enam lalu. Perjuangan yang berat telah kulalui untuk menduduki sekolah baruku ini. SLTPN Negeri 30, Jakarta Utara. Saat itu aku sudah mengerti akan kebanggaan dan pentingnya menempuh pelajaran di sekolah berkualitas seperti sekolahku ini. Kau tau? Sekolahku adalah SLTPN favorit se-Jakarta Utara. Favorit kualitasnya dan yah..tentu saja ”favorit” biaya SPPnya. Namun orangtuaku terlihat tak keberatan dengan itu, aku tau pendidikan yang baik bagiku-lah yang terpenting bagi mereka. Ya, aku tau itu.
Hari-hari pertama di sekolah baruku ini nampak asing. Mungkin karena aku telah berada di sekolah sebelumnya selama 6 tahun. Dan kini semua temanku berganti. Hanya 4 orang saja dari SDku yang lolos masuk seleksi SLTPN 30. Dan 3 temanku lainnya itu berbeda kelas denganku. Namun aku bertemu lagi denganku sahabat sepermainanku saat aku mengikuti kursus di kelas Pak Jamal, Sari Pratiwi, Neng Aiy sapaan akrabnya. Akupun senang bisa sekelas dengannya, dan kamipun jadi teman satu meja. Hari-hari baru di sekolah baruku akan kulalui dengan ceria bersamanya dan teman sekelasku lainnya di kelas I-4.
Hmm, banyak lagi hal baru di sekolahku yang juga baru itu. Mata pelajaran yang baru, guru yang berbeda tiap pelajaran, jarak yang jauh dari rumah, jam istirahat dua kali, mushola di lingkungan sekolah, dan macam-macam ekstrakulikuler lain yang baru kukenal. Dan semua murid baru harus memilih salah satu dari ekstrakulikuler (eskul) itu. Ketika kusampaikan itu pada orangtuaku, mereka menyuruhku untuk memilih eskul Membaca Quran (MQ), maka kuturuti saja saran orangtauku itu.
Cawu pertama, kedua, dan ketiga telah kulalui. Pulang pergi aku harus naik angkutan umum Mikrolet 14 jurusan Priuk-Cilincing. Tanpa sadar aku selalu bertemu mereka dalam perjalanan pulangku ke rumah, Kiki dan Atun teman SDku, serta tiga orang teman lainnya yang baru kukenal, Oliv, Dewi, dan Marlya. Entah kenapa kami selalu berpas-pasan pulang bersama dan kebetulan naik agkutan umum yang sama. Maka terjadilah perbincangan-perbincangan berikutnya saat perjalanan pulang kami tempuh.
Tapi anehnya kami cepat merasa cocok satu sama lain. Ya, sepertinya kami mulai bersahabat, karena walaupun kelas kami saling terpisah –begitu juga saat kenaikan ke kelas dua- namun kami tetap saling tunggu menunggu untuk dapat pulang bersama lagi, berbincang lagi, dan tertawa bersama lagi.
Hingga akhirnya kami mulai mengenal istilah geng (ceileh geng) di kalangan pelajar SMP dan SMA, yaitu sebutan persahabatan yang kokoh oleh beberapa orang anggota saja. Maka kami putuskan untuk membentuk sebuah geng dan tentu saja anggotanya kami berenam.
Hari putih-biru itupun semakin indah ketika ada suatu ’adat’ diantara kami. Bahwa siapapun yang berulangtahun diantara kami, maka akan mendapatkan surprise dan hadiah dari yang lainnya. Aku masih ingat betul ketika beberapa kali kami merencanakan kejutan kecil istimewa untuk siapapun yang berulangtahun di antara kami. Ada yang gagal dan berujung tawa, ada pula yang berhasil dan berujung haru. Seperti yang mereka lakukan pada ulangtahunku yang ke -14 saat itu. Mereka tiba-tiba mengajak aku masuk ke dalam kamar mandi bersama, ya kami berenam. Ada apa gerangan aku masih tak mengerti. Kupikir mereka akan marah padaku karena suatu hal, namun ternyata mereka mengeluarkan sebuah bingkisan yang akhirnya kutau bahwa itu adalah hadiah untuk ulangtahunku yang ke-14. Aku sangat terharu saat itu. Mereka begitu jenaka dan tulus menyiapkan kejutan kecil untukku. Terimakasih tak berhenti aku ucapkan berkali-kali bahkan samapi aku berkaca-kaca, aku begitu tak menyangka. Ah, bahagianya masa-masa itu.
Hari-hari pertama di sekolah baruku ini nampak asing. Mungkin karena aku telah berada di sekolah sebelumnya selama 6 tahun. Dan kini semua temanku berganti. Hanya 4 orang saja dari SDku yang lolos masuk seleksi SLTPN 30. Dan 3 temanku lainnya itu berbeda kelas denganku. Namun aku bertemu lagi denganku sahabat sepermainanku saat aku mengikuti kursus di kelas Pak Jamal, Sari Pratiwi, Neng Aiy sapaan akrabnya. Akupun senang bisa sekelas dengannya, dan kamipun jadi teman satu meja. Hari-hari baru di sekolah baruku akan kulalui dengan ceria bersamanya dan teman sekelasku lainnya di kelas I-4.
Hmm, banyak lagi hal baru di sekolahku yang juga baru itu. Mata pelajaran yang baru, guru yang berbeda tiap pelajaran, jarak yang jauh dari rumah, jam istirahat dua kali, mushola di lingkungan sekolah, dan macam-macam ekstrakulikuler lain yang baru kukenal. Dan semua murid baru harus memilih salah satu dari ekstrakulikuler (eskul) itu. Ketika kusampaikan itu pada orangtuaku, mereka menyuruhku untuk memilih eskul Membaca Quran (MQ), maka kuturuti saja saran orangtauku itu.
Cawu pertama, kedua, dan ketiga telah kulalui. Pulang pergi aku harus naik angkutan umum Mikrolet 14 jurusan Priuk-Cilincing. Tanpa sadar aku selalu bertemu mereka dalam perjalanan pulangku ke rumah, Kiki dan Atun teman SDku, serta tiga orang teman lainnya yang baru kukenal, Oliv, Dewi, dan Marlya. Entah kenapa kami selalu berpas-pasan pulang bersama dan kebetulan naik agkutan umum yang sama. Maka terjadilah perbincangan-perbincangan berikutnya saat perjalanan pulang kami tempuh.
Tapi anehnya kami cepat merasa cocok satu sama lain. Ya, sepertinya kami mulai bersahabat, karena walaupun kelas kami saling terpisah –begitu juga saat kenaikan ke kelas dua- namun kami tetap saling tunggu menunggu untuk dapat pulang bersama lagi, berbincang lagi, dan tertawa bersama lagi.
Hingga akhirnya kami mulai mengenal istilah geng (ceileh geng) di kalangan pelajar SMP dan SMA, yaitu sebutan persahabatan yang kokoh oleh beberapa orang anggota saja. Maka kami putuskan untuk membentuk sebuah geng dan tentu saja anggotanya kami berenam.
Hari putih-biru itupun semakin indah ketika ada suatu ’adat’ diantara kami. Bahwa siapapun yang berulangtahun diantara kami, maka akan mendapatkan surprise dan hadiah dari yang lainnya. Aku masih ingat betul ketika beberapa kali kami merencanakan kejutan kecil istimewa untuk siapapun yang berulangtahun di antara kami. Ada yang gagal dan berujung tawa, ada pula yang berhasil dan berujung haru. Seperti yang mereka lakukan pada ulangtahunku yang ke -14 saat itu. Mereka tiba-tiba mengajak aku masuk ke dalam kamar mandi bersama, ya kami berenam. Ada apa gerangan aku masih tak mengerti. Kupikir mereka akan marah padaku karena suatu hal, namun ternyata mereka mengeluarkan sebuah bingkisan yang akhirnya kutau bahwa itu adalah hadiah untuk ulangtahunku yang ke-14. Aku sangat terharu saat itu. Mereka begitu jenaka dan tulus menyiapkan kejutan kecil untukku. Terimakasih tak berhenti aku ucapkan berkali-kali bahkan samapi aku berkaca-kaca, aku begitu tak menyangka. Ah, bahagianya masa-masa itu.
Komentar
Posting Komentar