Masa Remaja Part 2

Gedung yang berwarna putih abu itu meneriakan ucapan sambutannya saat kami –aku dan sekitar 65% murid SLTPN 30 lainnya- tiba disana. Banner bertuliskan SMAN 13 Jakarta Utara seolah memutar kaset berisi musik pengiring siswa/i baru yang datang menghampirinya, memasuki gerbang sekolah dengan membawa berbagai berkas keperluan mendaftar sekolah. Jika gerbang hitam itu, banner coklat itu, gedung putih-abu itu dapat bicara mungkin mereka akan berkata

”Huuff, lagi-lagi mayoritas lulusan SLTPN 30..!!”

Haha..tak usah heran hai gerbang, banner, dan gedung tua. Bukankah ini selalu terjadi tiap tahunnya? Ya benar, penerimaan siswa/i baru di SMAN 13 selalu didominasi lulusan dari SLTPN 30. Selain jarak kedua sekolah itu yang berdekatan, SLTP dan SMA itu memang sama-sama sekolah terfavorit se-Jakarta Utara. *favorit biaya SPPnya!

Maka ketika aku mendaftarkan diriku untuk melanjutkan sekolah disana, terlihatlah di kanan kiriku teman-temanku semasa di 30. Tak ada keasingan lagi dengan mereka. Bahkan senyum yang tak bisa kujelaskan itu juga kembali terkembang ketika kami menapaki jalan Berdikari nan rindang itu. Jalan Berdikari yang akan selalu kulewati itu memang sangat rindang, nyaman untuk berbincang lama-lama disana. Hmm, bahkan sampai saat ini aku selalu terbawa suasana ketika melewati jalan itu kembali.

Tibalah saatnya MOS setelah aku terdaftar lolos seleksi masuk SMAN 13. MOS (Masa Orientasi Siswa) terdengar menyeramkan bagiku. Aku begitu patuh mengikuti semua tugas-tuga yang dipinta kakak-kakak senior disana. Jika diingat-ingat lucu juga. Kami harus membawa apel bertangkai dua, tempe segilima, pisang lurus, namatag segienam, rambut kepang dipita, serta yel-yel yang harus dihafal, dan entah mengapa begitu kami patuhi semua tugas-tugas itu. Toh padahal jika tak kami lakukan pun, tidak ada ancaman apapun bagi kami. Mungkin sekedar menambah keseruan penerimaan siswa-siswi baru saja, dan ajang balas dendam para kakak-kaka senior karena dahulu mereka diperlakukan serupa oleh senior diatasnya. Hoo, senandung SMA.

Jurusan

Tak bia kupungkiri, aku sangat mengagumi ilmu-ilmu pasti. Entah menguasainya atau tidak, namun aku sangat terpesona dengan kepastian ilmu alam. Mengolah dan meneliti data alam yang tiada habis tuk dipelajari, terutama angkasa raya beserta isinya. Galaksi, tata surya, bintang, asteroid, matahari, planet, gugus bintang dan segala isi angkasa yang membuatku terkagum padanya. Ehm mungkin lebih tepatnya aku mengagumi lukisanNya itu, indah dan bertaburan diangkasa. Ya, aku sangat menyukai ilmu fisika dan astronomi. Maka aku dapat menunjukan koleksi artikel astronomiku jika kau mau. Kudapat itu semua dari koran, majalah, internet, bahkan kalender bergambarkan bintang-bintang diangkasa. Semua itu kugunting satu persatu, kutempelkan dengan rapi dan kubuat seperti buku.

Teman-teman kelasku tidak menyukai pelajaran fisika seperti aku. Mereka heran mengapa nilai fisikaku selalu bagus, namun berbanding terbalik dengan nilai kimiaku. Nilai kimiaku selalu berkisar diantara rata-rata atau bahkan dibawahnya. Ckckck memalukan! Aku sungguh mengalami kerumitan saat mempelajari kimia.

Tapi anehnya aku dapat dengan cepat menghafal tabel periodik bahkan hanya dalam waktu 40 menit. Saat Bu Ade –guru kimia kami- melakukan tes hafalan tabel periodik, akulah yang katanya paling baik hafalannya. Serentak anak-anak memberi ucapan selamat sambil bertanya padaku bagaimana caranya menghafal sesingkat dan sebagus itu. Lalu aku hanya menjawab, ”Yaaa..aku hanya menghafalnya”. Memang benar, aku tak melakukan cara lain selain menghafal semua tabel periodik itu. Menghafalnya dan tidak memahaminya, huh Big mistake! Don't try that at school!

Dalam pelajaran kimia aku sungguh tak bisa mengerti perhitungannya dengan baik. Apalagi ketika ujian. Jika mengerjakan soal kimia ditemani contoh atau open book istilahnya, aku memang bisa mengerjakan soal-soal itu. Tetapi ketika harus mengerjakan di ujian, aku kebingungan setengah mati, bahkan aku tak tau apa yang harus kukerjakan dengan soal-soal di hadapanku. Inilah yang akhirnya ’menceburkan’ diriku masuk ke jurusan IPS saat kenaikan ke kelas dua SMA. Aku harus rela melepaskan pelajaran fisika yang kucintai. Dan berganti dengan pelajaran –pelajaran yang tak begitu kusuka. Sosiologi, sejarah, dan akuntansi. Aku harus menghela nafas setiap kubuka buku-buku sosial itu tiap jam pelajarannya tiba. Suka atau tidak suka..aku harus suka. Yah ilmu sosial yang SELALU paspasan nilainya semenjak SD, dan aku harus mempelajarinya. Bahkan aku pun harus rela melepas ilmu seni rupa yang hanya untuk anak IPA, karna anak jurusan IPS akan mendapatkan ilmu seni musik pada pelajaran kesenian. Uuughh tak rela rasanya! Ah tapi yaa sudahlah ku jalani saja, karna mungkin ini terbaik bagiNya. *remember this ai!

Persahabatan bagai...
REWD2D.Lima huruf itu sangat berarti di warna-warni kehidupan remajaku di SMA. Riyuwditwodi, begitu cara bacanya. Persahabatan kami bagai tak lekang oleh waktu. Kami dipertemukan saat kami sama-sama duduk di bangku kelas dua SMA. XI IPS 2, yang berada dilantai dua selalu indah untuk dikenang. Kami memaknai sudut-sudut ruang itu sebgai celah tertawa, sedih, senang, dan duka yang kami lewati bersama.

Semoga tiada kata berpisah untuk persahabatan kami. Tak peduli bagaimana kehidupan kami nanti. Tak peduli dimana kami melajutkan hidup kami nanti. Kami tak mau memikirkan bagaiamana kalau nanti persahabatan ini berakhir, karena kami tak menginginkannya. Aku ingin, dan sangat ingin persahabatan ini diridhoiNya. Aku tak mau kami hanya bertemu di dunia lalu tak saling mengenal di akhirat nanti. Maka kami terus lakukan perbaikan diri, agar Allah meridhoi persahabatan kami. Ya, semua karena kuasa-Nya. Karena takdir yang telah di garis-garis tangan kita, menggambarkan skenario indah sampai kami dipertemukan dan menjaga tali persaudaraan hingga kini.

Kemudian aku juga bersahabat dengan para pembuat heboh di kelas XI IPS 2, yang dimana kami juga membuat usaha yang cukup sukses bersama Eno, Ujay, Ola, Defi, dan Nesia. Hmm, usaha kami bernama JILIDOSA COMPANY dan kami cukup tenar saat itu, kami menyediakan jasa penjilidan yang cepat dan murah dibandingkan dengan toko fotocopy di depan sekolah. Maka kami seketika menjadi populer seantero SMAN 13. Senangnya menjadi tenar.

Ah masa SMA, betapa penuh warna. Bahkan masih banyak warna lainnya yang tak ku ungkapkan, tapi itu semua terlalu banyak hingga tak sanggup aku menyusun barisan kata.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

bantulah..Allah kan membantumu :)